Minggu, 04 November 2012

Berkunjung ke Rumah Kebun Aquaponic Fadly Padi

Doomsday preppers!

Begitu kata Andy Fadly Arifudin alias Fadly tentang rumah kebunnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Jelas vokalis band Padi ini, konsep rumah dengan kebun aneka tumbuhan ini sengaja ia buat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan akan sayuran organik dan protein hewani.
Kita makan apa yang kita tanam,” ujarnya

Istilah doomsday preppers (DP) atau ‘preppers kiamat’ ini diakuinya, saat ia nonton di National Geographic (Nat Geo), yakni di situs www.gardenpool.org. DP adalah acara reality showdi kanal National Geographic (NatGeo). Konsepnya menggambarkan aktivitas orang-orang yang mempersiapkan diri menghadapi akhir peradaban. Salah satu persiapan adalah memproduksi sendiri kebun berisi tanaman untuk kebutuhan hidup. Sehingga, pada saat musim kelaparan tetap memiliki stok makanan.

Saya pikir (DP) ini sama dgn yang saya bikin. Cuman orang Amerika lebih lengkap. Mereka bersiap untuk kejatuhan Dollar. Saya merasa, kita semua sudah berada di akhir zaman, dimana suatu saat tanaman akan menjadi alat tukar.”

1351074976207649598

Bloggers, terlepas dari fenomena DP, saya beruntung bisa berkunjung ke rumah kebun Fadly Padi siang kemarin. Kebetulan istri saya, Sindhi, yang aktif di #IndonesiaBerkebun mengabarkan pada saya, bahwa komunitas yang bergerak dalam berkebun, ingin melakukan kunjungan ke rumah Fadly. Sudah sejak lama saya ingin melihat rumah kebunnya yang inspiratif ini. Alhamdulillah, impian saya tercapai.

Bloggers, Fadly membangun kebun di atas tanah seluas 386 m2 ini sejak 2012. Di tanah ini, ada bangunanan. Sementara sekitar 150 m2 dipergunakan untuk kebun. Sebelum menjadi kebun, rumah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 1975 sekadar rumah ‘biasa’, sebagaimana rumah-rumah tetangga sebelahnya. Ada bangunan, plus tanah dengan tanaman ala kadarnya.

Ia membeli rumah kebun yang lokasinya di gang persis di seberang lapangan udara Pondok Cabe ini pada 2007. Saat itu, ia ditawari oleh Dika, pemain bas Ada Band, yang tak lain sepupunya. Si pemilik menjual tanah bersertarumah tua seluas kurang lebih 500 m2. Dari luas itu, Fadly dan Dika membagi dua.

Saya mengambil tanah 386 meter persegi, plus bonus rumah tua ini, sementara Dika mengambil sisanya,” jelas suami Dessy Aulia ini.

1351075062268985443

Dua tahun setelah dibeli, barulah Fadly giat menjadikan rumahnya penuh dengan tanaman. Tak kurang dari pak choy, cabe, sereh, pohon salam, jahe merah, binahong, lengkuas, pandan, tomat, basil, timun suri, kacang panjang, dan kemangi. Ada pula buah-buahan, mulai dari alpukat, sirsak, manggis, jambu, pepaya, pisang ambon, dan durian. 

Alhamdulillah, targetnya kebun ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar ayah dari Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan ini.

Bloggers, melihat aneka jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di kebun Fadly ini, jelas sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Betapa tidak, ingin memasak sayur, tinggal ambil di kebun. Untuk lauk-pauk, ia juga memiliki kolam ikan. Jika sebelumnya, ia memelihara ikan lele, ketika saya berkunjung, yang ada di kolam adalah ikan nila.

Di kolam ini lela cuma bertahan 2 bulan. Bukan karena mati, tapi kita makanin terus,” papar mantan vokalis Mr. Q. Band dari Surabaya, yang kini sedang mempersiapkan mengelola ribuan lele di dalam sebuah bekas watertoren ini.

13510751001618039604

Dalam mengelola kebunnya, Fadly cukup kreatif. Ia rajin mengumpulkan barang-barang bekas dan memanfaatkannya menjadi pot. Ada bekas bath tube, gentong air, botol minuman mineral, watertoren, dan barang bekas lain. Selain digunakan untuk pot, ia memanfaatkan botol minuman mineral untuk membungkus bambu-bambu yang menjadi penyangga tanaman di kebun itu.

Bambu ini diplastikan supaya tidak kena rayap,” jelas Fadly, yang mengurus kebunnya ini bersama 2 orang lain. “Rayap nggak mungkin masuk, karena nggak ada celah untuk masuk, karena bambu sudah terbungkus plastik. Kalo kena air, bambu juga nggak cepat lapuk. Soalnya kalo penyangga nggak mau cepat lapuk harus pake kayu jati dan itu jelas mahal.

Tentu untuk mengumpulkan, Fadly harus hunting. Namun, katanya, ia hunting jika mau cari kolam dan growbed untuk Aquaponic. Huntingnya pun dekat rumah. Khusus untuk bamboo, ia mengaku punya teman penjual bambu dan lapak barang bekas, dimana biasa mengantarkan botol minuman mineral bekas dan bambu ke rumah kebunnya.

Selama ini, ia belajar berkebun dengan otodidak, termasuk belajar Aquaponic. Khusus Aquaponic, ia belajar dari YouTube dan berbagai sumber internet. Juga dari buku karya Sylvia Bernstein berjudul Aquaponics gardening.

Bagi Bloggers yang belum tahu, Aquaponics adalah campuran antara budidaya ikan atau peternakan ikan dan hidroponik atau budi daya tanaman dengan menggunakan sedikit tanah dalam sistem tertutup. Dengan naiknya harga bahan bakar dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, Aquaponics bisa menjadi alternatif.

Menurut Sylvia Bernstein, “Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami.”


Sistem Aquaponic ini menarik dan semakin banyak orang di seluruh dunia berkebun Aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun. Di India, Aquaponics dijadikan salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat dalam 10 tahun terakhir ini. Menurut Fadly, sibuknya hanya di awal-awal pada saat membangun system. “Setelah itu tingggal menyemai dan menanam. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyibukkan.”

Selain tidak menyibukkan jika ssstem sudah berjalan, dari segi pendanaan pun relatif murah meriah. Ungkap Fadly, dana yang dibutuhkan untuk perawatan, paling cuma membayar tagihan listrik dan pembelian benih. Selama berkebun dengan Aquaponic ini, tagihan listriknya setiap bulan sekitar Rp. 200.000. Lalu, tenaga kerja cuma datang 2 kali sepekan.

Mereka datang untuk nge-check mesin pompa.

1351075169437398857

Bloggers, tentu saja, selain fokus berkebun dengan Aquaponic-nya, Fadly tetap bergabung dengan rekan-rekannya: Ari (gitar), Yoyo (drum), Rindra (bas), dan Piyu (gitar) di Padi. Maklumlah, ia adalah pendiri band yang didirikan pada 8 April 1997 ini. Belakangan, ia sedang mengerjakan proyek bersama Rindra, Yoyo, dan Stephan Santoso dengan nama Musikimia.

Kita cuma berempat. Anggotanya memang minimalis, tetapi musiknya maksimalis,” jelas Fadly, yang aliran musiknya seperti Soundgarden atau Led Zeppelin. 

Musikimia ini adalah proyek Fadly dan kawan-kawan selama mengisi kekosongan Padi yang sedang vakum. Band ini sendiri dimanajeri oleh Ari, yang tak lain adalah gitaris Padi, selain gitaris utama: Piyu. Di Musikimia, selain menjadi Manajer, Ari juga bertindak sebagai co-Producer dan fokus di belakang layar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album.

Bloggers, sebelum saya dan teman-teman dari #IndonesiaBerkebun pamit pulang, Fadly sempat ditodong nyanyi. Awalnya ia malu-malu. Namun, karena didesak oleh permintaan para ‘ibu-ibu’, Fadly pun menyerah. Ia pun menyanyi sepotong lagu Padi sambil memainkan gitarnya.


Jumat, 12 Oktober 2012

DKI Jakarta Siap Operasikan Bike Path, Jalur Sepeda Paling Aman

ak akan lama lagi para pesepeda di DKI Jakarta akan memiliki bike path. Tak seperti bike line, bike path merupakan jalur khusus sepeda. Tak boleh ada kendaraan lain selain sepeda, termasuk motor, yang diizinkan masuk ke jalur sepeda.

Selama ini, DKI Jakarta hanya memiliki bike line. Di Blok M, Jakarta Selatan misalnya. Ada jalur hijau yang merupakan bike line. Selain Blok M, beberapa lokasi yang sudah punya jalur sepeda adalah adalah Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, Sentul City dan Jababeka. Namun sayangnya bike line ini tidak efektif, karena jalurnya masih menyatu dengan kendaraan umum lain. Motor seringkali menyerobot masuk ke bike line. Pun mobil seenaknya parkir di jalur yang sebenarnya khusus untuk sepeda itu. Metromini atau angkot berhenti seenaknya menghalangi jalur sepeda. Oleh karena itu, pembangunan bike path sangat dinantikan pesepeda.

Menurut rencana, bike path akan dioperasikan ruas-ruas menuju jalan protokol di Jakarta. Namun, untuk periode pertama, bike path baru dilakukan di Kanal Banjir Timur (KBT).  Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Udar Pristono, saat ini bike path di KBT sudah selesai 80%. Jika tidak aral melintang, jalur sepeda sepanjang 6,7 km ini akan rampung per akhir 2012 ini.

Setelah KBT, Pemda DKI Jakarta akan melanjutkan pembangunan bike path hingga ke Marunda. Jalur sepeda ke arah rumah si Pitung ini akan memiliki panjang kurang lebih 44 km, dimana di sisi utara panjangnya 22 km dan sisi selatan 22 km. Tentu saja, ruas-ruas lain juga akan dibangun bike path, apalagi jika terdapat lahan di sisi sungai, pasti bisa dibangun bike path, termasuk jalan yang melintasi Sungai Ciliwung, seperti Manggarai, Pasar Baru, maupun Tanah Abang.

Guna menjaga agar bike path tidak dimanfaatkan oleh motor, Dishub DKI Jakarta sudah memasang marka, pembatas beton, bollard, maupun portal. Menurut Udar, setiap hari akan ada lima petugas dari Dishub DKI Jakarta yang berjaga di setiap persimpangan bike path.

Melihat kebijakan Pemda DKI Jakarta yang ramah terhadap pesepeda, rasanya tak berlebihan jika suatu hari nanti, Jakarta akan menjadi kota sepeda. Tidak seperti sekarang menjadi kota motor. Dan jika menjadi kota sepeda, Insya Allah kota Jakarta bisa sejajar dengan 11 kota di dunia yang berhasil memperoleh predikat kota paling ramah untuk pesepeda, yakni Amsterdam, Belanda; Portland, Oregon, AS; Copenhagen, Denmark; Boulder, Colorado, AS; Davis, California, AS; Sandnes, Norwegia; Trondheim, Norwegia; San Fransisco, California, AS; Berlin, Jerman; Barcelona, Spanyol; Bassel, Swiss;

Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Virgin-Vacations (www.virgin-vacations.com), bahwa salah satu upaya memperbaiki kualitas bersepeda di dalam kota justru berasal dari dua pihak: penduduk dan pemerintah kota. Dalam hal ini, kebijakan Pemda DKI Jakarta sudah benar. Kebijakan pembangunan bike path ini akan membuat penduduk semakin nyaman menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi.
Namun begitu, ada masalah lain. Pesepeda boleh senang, tetapi sebaliknya belakangan pelaku industri sepeda nasional justru mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada produsen sepeda dalam negeri. Pasalnya, harga produksi dalam negeri lebih mahal daripada harga impor sepeda utuh. Betapa tidak, bea masuk impor bahan baku sepeda saat ini 10%-15%, sedangkan bea masuk impor sepeda 0%-5%.

Selasa, 12 Juni 2012

JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN PENGENDARA MOTOR

Pejalan kaki memiliki kasta paling rendah karena dianggap paling miskin dan tak memiliki kendaraan”.

Pernyataan Pengamat Perkotaan dan Lingkungan Hidup, Nirwono Yoga yang penulis kutip dari Republika (2/3/2012) itu, tentu tidak sedang melecehkan pejalan kaki. Namun, justru ingin mengkritisi Pemerintah Kota (Pemkot) serta pemilik kendaraan yang memarjinalkan para pejalan kaki.

Buruknya kondisi trotoar di Ibu Kota, menurut Yoga, karena pola pikir Pemkot dan pemerintah pusat yang tidak memprioritaskan hak pejalan kaki. Jadi jika dikatakan pedestarian merupakan infrastruktur kota yang memiliki kasta paling rendah di kota besar, terutama di Jakarta, itu bukan omong kosong.

Bloggers, salah satu sebab mengapa pejalan kaki termarjinalkan, karena Pemkot lebih memilih memberdayakan pedagang kaki lima (PKL) dan juru parkir untuk memanfaatkan trotoar. Jika pejalan kaki ‘menghamburkan uang’, karena Pemkot harus membuat infrastruktur, sementara PKL dan juru parkir menghasilkan uang bagi kas Pemerintah Daerah (Pemda). Meski sebetulnya kas Pemda yang saya maksud di sini masih perlu dipertanyakan kelegalitasannya. Sebab, baik PKL maupun juru parkir off road, kebanyakan illegal. Tak terdata secara formal sebagai kas negara, tetapi lebih untuk pemasukkan oknum.


Dengan menggunakan pola pikir ekonomi illegal seperti itu, sampai kapan pun masalah pejalan kaki yang termarjinalkan ini tidak akan pernah selesai. Ini belum kita bongkar tentang proyek-proyek penataan area pedestarian yang dilakukan oleh 12 instansi di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dinas Pertamanan dan Keamanan (Distamkam) mengurus masalah estetika, seperti bangku, tempat sampah, dan halte. Lalu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI mengurus terkait jalan dan utilitas. 

Banyaknya instansi yang memiliki kewenangan di atas trotoar membuat pengamanan dan perawatan terabaikan,” ujar Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna. “Akibatnya, banyak trotoar yang diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi. Masalahnya apa lagi kalau bukan soal uang. Mereka (PKL) kan dipungut retribusi”. 

Apa yang dikatakan Yayat memang terbukti. Fakta di lapangan, banyak halte yang dijadikan warung rokok atau kios koran. Begitu juga di jembatan penyebrangan. Saat ini jembatan penyeberangan tidak luput dari PKL. Mereka yang berjalan kaki sudah tidak nyaman lagi menyeberang, karena setengah area jalan sudah dicaplok oleh PKL. Sangat mustahil jika aparat dari Pemprov tidak tahu kondisi tersebut. 

Soal fungsinya beralih, bukan tugas kami,” begitu kata Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan Jakarta Barat, Yusmada Faizal, seolah lepas tangan dari kondisi tersebut.

Sejak dari zaman Gubernur Sutiyoso sampai Fawzi Bowo (Foke) sekarang, PKL memang makin menjamur tanpa ada penertiban. Padahal sebetulnya Sutiyoso sudah sempat membuat prototipe melokalisasikan PKL di satu tempat. Namun entah kenapa di zaman Foke ini PKL dibiarkan bebas, sehingga mengganggu pejalan kaki.


Giliran di trotoar tidak ada PKL atau parkir kendaraan, para pejalan kaki belum juga aman. Mereka masih diganggu oleh para pengendara motor. Jika kebetulan sedang berjalan kaki, saya adalah orang yang tidak akan pernah memberi jalan motor-motor yang melaju di trotoar. Kompasianers, jika Anda juga pejalan kaki dan sedang berjalan di trotoar, saya sarankan JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN PENGENDARA MOTOR. Anda punya hak untuk berjalan, bukan memberi jalan.

Ketika saya mengendarai motor, Alhamdulillah saya menahan diri untuk tidak mengambil hak para pejalan kaki dengan melajukan motor saya di trotoar. Semacet-macetnya jalan, buat saya HARAM berkendaraan di trotoar. Sebab, bagaimana kita mau mengkritisi orang lain untuk berdisiplin kalau kita sendiri tidak disiplin? Bagaimana kita mau berbicara tentang hak kita kalau hak orang lain saja kita injak-injak? Bagaimana kita membuat orang lain aman jika kebiasaan kita selalu membuat orang lain tidak aman?

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Anda yang terbiasa merampok hak pejalan kaki. Alhamdulillah, saat ini di Kota-Kota besar tumbuh komunitas bernama Koaliasi Pejalan Kaki (KoPK). Menurut Ketua KoKP, Ahmad Safrudin, koalisi yang terdiri dari berbagai latarbelakang profesi ini merupakan komunitas yang ingin memerdekakan hak pejalan kaki dari pengguna pendaraan bermotor.

Sebuah kota yang beradab bukan terlihat dari gedung-gedung mewah, tetapi dari tingkat kedisiplinan yang terlihat di jalan raya,” ujar Safrudin ketika diinterview oleh Andy Noya di acara Kick Andy.


Beberapa waktu lalu harian Kompas sempat membuat jejak pendapat terhadap 418 responden di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok (Jabodetabek) tentang keamanan dan kenyamanan berjalan di trotoar. Tujuhpuluh koma tiga persen responden  usia 17 tahun ke atas dan sudah menikah ini mengatakan, tidak nyaman lagi berjalan di trotoar. Begitu banyak PKL dan motor melaju di trotoar. Lalu tentang faktor keamanan berjalan di trotoar, 70,3% juga mengatakan tidak aman.

Melihat fakta tersebut, kebijakan terhadap pedesterian sangat urgent! Namun, menurut Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia Ellen Tangkudung, perbaikan area pedestarian tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Tambah Yayat, harus jelas juga interkoneksinya dan orientasi pembangunannya.

Apakah menuju halte ke tempat kerja, rumah, ataupun stasiun bus”. 

TAK PERLU SATU ABAD MENJERNIHKAN KALI

Osaka, Jepang, 1962. Sejumlah warga membuang langsung sampah rumah tangga ke kali. Kondisi kali makin parah dengan sampah dari industri-industri yang tengah berkembang pesat pada saat itu. Meski kotor, bau dan menggandung penyakit, namun kali itu tetap saja dipergunakan warga Osaka untuk segala kebutuhan, baik itu untuk mencuci, mandi, dan minum.

Saat musim panas tiba, airnya sangat berbau,” ujar Wali Kota Osaka, Kunio Hiramatsu.

Gambaran tentang kali di Osaka tersebut benar-benar mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pada 8 Juni 2012 lalu, Surabaya Post mengungkapkan air Kali Surabaya Timur yang mengalir dari Gunungsari-Jagir dianggap sebagai kali yang paling buruk. Daerah aliran sungai (DAS) yang melintasi 17 daerah di antaranya Kota Malang, Kabupaten Malang,Kabupaten Mojokerto,Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang,dan Kediri ini mendapat predikat zona merah.


Tak beda dengan kali di Jakarta. Menurut buku Alam Jakarta: Sebuah Panduan Keanekaragaman Hayati yang Tersisa di Jakarta (Murai Kencana, 2008)yang ditulis oleh Ady Kristanto, air kali di Jakarta telah tercemar Bakteri Escherichia coli (Bakteri E.coli), dengan tingkat pencemaran mencapai 80%. Kondisi ini memprihatinkan dan sangat berbahaya bagi kesehatan warga.

Selama ini banyak anggapan, bahwa industrilah yang memiliki kontribusi besar mencemari sungai. Ternyata, Sekitar 80% pencemaran air sungai di Jakarta disebabkan oleh limbah rumah tangga. Selain kebiasaan membuang sampah sembarangan di kali, pencemaran berasal dari bahan pencuci yang mengandung fosfar tinggi serta surfaktan. 

Jika pencemaran terus berlanjut dan tidak ada perbaikan kualitas air, perairan akan menjadi anaerob (tidak ada oksigen). Kondisi ini dapat membuat organisme yang hidupnya bergantung pada oksigen akan mati. Efek yang lebih parah lagi, terganggunya rantai makanan yang dapat mengakibatkan kematian bagi organisme lain, baik langsung maupun tak langsung.

Kembali ke masalah kali di Osaka. Melihat kali di kota itu kotor, pada 1970-an Pemerintah Kota (Pemkot) mensahkan Undang-Undang Pengendalian Pencemaran Air untuk mengontrol limbah, mengawasi pembuangan limbah, dan mengendalikan pembuangan limbah domestik. Intinya, semua potensi yang mencemarkan air kali, dikontrol ketat oleh Pemkot Osaka. 

Ternyata tidak perlu seabad untuk menjernihkan air kali. Jika Pemkot serius, bukan tidak mungkin masalah air kali yang kotor bisa diselesaikan dengan baik. Sang Wali Kota Hiramatsu bangga memajang gambar air kali di Osaka di situs Asosiasi Solusi Lingkungan dan Air Kota Osaka (OWESA). Sejak Maret 2000, air sungai yang dulu cokelat kehitam-hitaman, kini menjadi bersih. Bahkan Pemkot Osaka membuat sistem pengolahan air sungai, sehingga air tersebut layak untuk diminum, karena berhasil menghilangkan bau dan rasa tidak enak pada air. Yang pasti juga tidak terdapat Bakteri E.coli

Kini kapasitas penyediaan air mencapai 2,43 juta meter kubik per hari. Setidaknya, 97,3 persen warga sudah terlayani air ledeng dan penyakit yang disebabkan oleh air, hampir nol persen. Sistem pengolahan air ledeng ini mendapatkan penghargaan standar ISO 22000  pada 2008, yakni standar internasional untuk menajeman keamanan pangan. Pada 24 Mei 2011, di ajang Monde, air asal Osaka ini mendapat penghargaan internasional di Brussels, Belgia.

Sekarang air untuk mencuci, mandi, dan minum di Osaka sama. Sungai-sungai yang bersih juga memungkinkan bermacam-macam acara digelar di sepanjang tepi sungai,” ujar Hiramatsu.

Sabtu, 02 Juni 2012

GUDEG: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA # 4


Gudeg telah mendunia. Itulah fakta pada gudeg yang tidak bisa lagi menganggap remeh. Makanan yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu, dan sambal goreng kerecek ini bukan makanan ndeso lagi, tetapi sudah menjadi makanan kaum urban. 

Tentu Djuariah (79) tak menyangka usahanya akan sukses seperti sekarang ini. Wanita yang dikenal sebagai mbah Djum yang tak lain pemilik warung Gudeg Yu Djum ini hanya bercita-cita tidak ingin menjadi pencari rumput untuk makanan sapi selama-lamanya. Namun berkat kegigihannya, usaha gudeg di jalan Wijilan no 31 yang dirintis sejak 1946 maju pesat. Begitu pula warung gudeg di Dusun Karangasem, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogya. Tak kuran dari 100 sampai 150-an mobil parkir di situ untuk menikmati gudeg Yu Djum, dimana rata-rata satu mobil membawa 5 penumpang.

Melalui gudeg, cucu-cucu mbah Djum rata-rata telah mengecap pendidikan tinggi. Begitu pula dengan dinasti bu Lies. Warung gudeg yang didirikannya sejak 1990-an ini mengantarkan ketiga anaknya menjadi Sarjana. Namun, Chandra (40), Elina (36), dan Feri (34) lebih memilih meneruskan bisnis orangtua mereka menjual gudeg, ketimbang bekerja sesuai latar belakang pendidikan mereka.

Berikanlah semua yang terbaik yang bisa kamu berikan pada pelanggan”.

Bloggers, itulah filosofi mbah Djum yang diwariskan pada anak-anaknya. Tak heran, gudeg jualannya tetap laris hingga ke generasi kedua dan ketiga. Menurut Haryani, anak mbah Djum, melalui filosofi itu, ibunya telah mempersiapkan anak-anaknya untuk meneruskan tahta warung gudegnya. Sehingga, selain cita rasa, anak-anaknya wajib mengikuti kultur yang sudah dilakukan ibunya, yang membuat warungnya laku.

Saya ingat betul, ibu selalu bilang, ‘Apa yang sudah ada di tangan jangan sampai dilepas. Tekuni saja, pasti berhasil’,” ujar Haryani (Kompas Minggu, 3/7/2011).

Sejak 1982, tahta pergudegan mbah Djum sudah dipegang oleh Haryani. Dinasti warung Gudeg Tugu juga diturunkan oleh Trispratoyo pada Supadmi (57) sejak duapuluh satu tahun lalu. Trispratoyo sendiri mewarisi bisnis gudeg dari orangtuanya yang sudah puluhan tahun berjualan di jalan AM Sangaji, tak jauh dari Pasar Kranggan, Yogyakarta. Jadi, Supadmi adalah generasi ketiga.

Kami mau meneruskan usaha ini (gudeg) karena usaha kami laku,”aku Supadmi, yang mewarisi tak cuma pelanggan dan warung gudeg, tetapi dapur, hingga seluruh peralatan memasak.

Tak beda dengan Supadmi, Maryati (42) adalah generasi ketiga penjual gudeg. Ia meneruskan usaha gudeg dari mertuanya, Suharti, yang laris di Pasar Pakem, Sleman. “Ibu (Suharti) sendiri meneruskan usaha gudeg si mbah,” ungkap Maryati. “Ternyata usaha ini (gudeg) menjanjikan”.

Bloggers, gudeg memang sudah menjadi usaha yang menjanjikan. Makanan ndeso yang konon ditemukan oleh Sri Sumantri, seorang istri prajurit Mataram, pada 1557 M ini bukan lagi sekadar makanan untuk para prajurit yang membangun benteng Mataram, tetapi sudah bertransformasi menjadi produk ekspor. Jelas fakta ini sangat membanggakan bagi kita sebagai orang Indonesia. 

(tamat)

GUDEG: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA # 3


Gudeg mengalami transformasi. Kesimpulan itu ditulis oleh wartawan Kompas, Budi Suwarna dan Aloysius B. Kurniawan di Kompas Minggu (3 Juli 2011). Dari hasil liputan mereka, gudeg saat ini tak sekadar dianggap kuliner lokal atau nasional, tetapi sudah menjadi makanan kelas dunia.

Gudeg tidak lagi dibukus dengan daun pisang atau box karton, tetapi sudah dikemas dengan kaleng. Layaknya ikan sarden kaleng, gudeg kini dimasukkan ke dalam kaleng, dimana mampu bertahan hingga dua tahun, meski tidak menggunakan bahan pengawet.

Bloggers, begitulah tuntutan zaman. Inovasi yang kini diterapkan oleh sejumlah pengusaha gudeg agar bisa mempu mengekspor makanan khas Yogya itu melintasi batas negara dan benua. Kemasan kelang ini jelas cocok bagi konsumen yang terbiasa dengan gaya hidup praktis dan instan.

Sejak muncul diperkirakan pada 1940-an, gudeg bukan sekadar dinikmati oleh penikmat kuliner lokal maupun nasional, tetapi juga wisatawan asing yang sempat merasakan kelezatan makanan khas Yogya ini. Penjual gudeg pun sudah turun temurun. Maryati (45) misalnya. Wanita ini adalah generasi ketiga pewaris tahta warung gudeg Bu Suharti yang berlokasi di Pasar Pakem, Sleman.

Tak beda dengan mbah Djum (78). Ia adalah generasi kedua yang mewarisi dunia gudeg. Orangtuanya, (alm) Geno Suwito adalah pembuat gudeg terkenal dari Kampung Mbarek. Padahal sebelum menjadi penjual gudeg, mbah Djum yang bernama asli Djuariah ini adalah seorang pencari rumput.

Namun warisan orangtuanya bukanlah bisnis yang sudah eksis. Ada motivasi dan tekad yang kuat dari mbah Djum. Ia tidak ingin menjadi pencari rumput yang cuma memiliki penghasilan pas-pasan. Nasibnya harus bisa berubah. Sementara ‘kendaraan’ yang digunakan untuk merubah nasibnya adalah ilmu per-gudeg-an warisan orangtuanya.

Setiap hari saya harus bisa mengumpulkan tiga keranjang rumput. Dua keranjang untuk makansapi, satu keranjang untuk dijual dan uangnya ditabung di dalam bambu yang jadi tiang rumah,” tutur mbah Djum mengingat masa lalunya (Kompas, Minggu, 3/7/2011).

Begitu tabungan cukup, mulailah mbah Djum membuka usaha gudeg. Kala itu, sekitar 1950-an, ia harus berjalan kaki menuju jalan Wijilan untuk berdagang gudeg. Orangtuanya yang membuat, ia yang menjual. Setiap malam memasak, pagi jualan. Begitu terus menerus dilakukannya bertahun-tahun.

Bloggers, kini, ketika kita ke Yogya, tak ada yang tak kenal dengan Gudeg Yu Djum yang berada di Kampung Berek, tepat sebelah utara kampus Universitas Gadjah Mada. Begitu pula dengan Gudeg Bu Lies yang berada di Wijilan. Meski sudah dipegang oleh generasi kedua, namun gudeg-gudeg mereka tetap manis dan gurih.

Guna memenuhi kebutuhan pasar, bu Elies membuat inovasi dengan menjual gudeg dalam kemasan kaleng. Sebenarnya inovasi ini pertama kali dirancang oleh Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gunung Kidul, Yogyakarta pada 2008-2009.

Pada 2011, inovasi karya LIPI itu diadopsi beberapa warung gudeg, mulai dari Gudeg Bu Lies, Gudeg Bu Citro, dan Gudeg Bu Joyo. Gudeg kemasan kaleng ini telah berhasil menembus pasar Arab Saudi, Belanda, dan negara-negara Eropa lain. Menurut Agus Susanto, peneliti LIPI Gunung Kidul, setiap hari memproduksi 1.000-1.500 kaleng gudeg. Sementara kemampuan produksi bisa mencapai 8.000-10.000 kaleng per hari. Itu artinya, warung-warung gudeg bisa memanfaatkan kemampuan itu untuk menjual gudeg dalam bentuk kaleng.

(bersambung)

Jumat, 01 Juni 2012

GUDEG: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA # 2


Setiap hari  Sukarman (49) mengolah 200 kilogram gori (buah nangka muda) menjadi gudeg, mengupas 2.000 butir telur, dan menyembelih 150 ekor ayam. Tentu saja, bukan cuma Sukarman sendiri. Ada sekitar 40 orang yang menjadi karyawan di Gudeg Yu Djum, Dusun Karangasem, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta ini.

Kami bisa memproduksi dua atau tiga kali lipat pada akhir pekan,” ujar pria berbadan kekar itu (Kompas Minggu, 3 Juli 2011). “Produksi ditingkatkan lagi pada libur lebaran. Bahkan  kami bisa memproduksi dua ton gudeg untuk dijual pada hari kedua hingga ketujuh setelah lebaran”.

Bloggers, gara-gara Gudeg Yu Djum, Kampung Mbarek ini mendapatkan rezeki. Betapa tidak, selain banyak warga kampung yang menjadi karyawan warung gudeg itu, tak sedikit pula tumbuh warung gudeg di kampung yang berada di sisi jalan Kaliurang, Yogyakarta.

Peneliti makanan tradisional dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Mudijati Gardjito memperkirakan, tradisi memproduksi gudeg di Kampung Mbarek ini muncul pada periode antara 1950 dan 1965. Perkiraan ini diambil atas dasar, pada periode 1950-an, penjual gudeg hanya bisa ditemui di pasar.

Analisa Prof. Mudjiati tersebut boleh jadi benar. Sebab, sebelum membuka warung gudeg di seberang kampus Universitas Gadjah Mada, mbah Djuwariah (nama asli pemilik Gudeg Yu Djum) masih jalan kaki dan menggendong gudegnya ke Wijilan. Bertahun-tahun kemudian, mbah Djum menggangkut dagangannya dengan becak, andong, dan kemudian mobil.

Meski jualan gudegnya ke Wilijan, tetapi sejak awal, produksi gudegnya di Kampung Mbarek. Mbah Djum adalah generasi kedua penjual gudeg. Saat orangtuanya, Geno Suwito sudah tak mampu lagi berjualan, mbah Djum yang melakukan. (alm) Geno yang memasak di Kampung Mbarek dan mbak Djum yang berjualan gudeg. Itulah cikal bakal Kampung Mbarek menjadi kampung gudeg.

Bloggers, sejak Gudeg Yu Djum diserbu banyak pelanggan, ada sekitar lima warung gudeg tumbuh di sekitar Kampung Mbarek dan mereka eksis sampai saat ini. Warung-warung itu adalah Gudeg Bu Ahmad, Gudeg Bu Atemo, Gudeg Bu Gito, Gudeg Bu Narni, dan Gudeg Bu Nendar. Yu Djum sendiri sudah tidak aktif lagi secara operasional. Ia lebih suka mengunyah sirih sambil melipat daun pisang untuk pembungkus gudeg. Sejak 1982, kedua anaknya lah yang kini mengurus warung Gudeg Yu Djum. Satu di Wijilan, satu lagi di Kampung Mbarek.

(bersambung)