Senin, 26 Maret 2012

TOUR OF BADUY DALAM #4: TABURAN BINTANG DI KAMPUNG NAN GELAP GULITA

Kami tiba di kampung Cibe’o menjelang magrib. Di kampung inilah kami akan menginap. Cibe’o adalah satu dari tiga mapung di Baduy Dalam yang memiliki 97 rumah dengan jumlah Kepala Keluarga kurang lebih 133 orang. Menurut pak Narja, total penghuni kampung Cibe’o ini sekitar 500-an orang.

Cibe’o termasuk kampung yang padat penduduk. Dua kampung lain, yakni Cikartawana dan Cikeusik tidak begitu padat. Jumlah rumah di Cikartawana boleh jadi paling sedikit, yakni sekitar 37 rumah. Sementara Cikeusik mencapai 70-an rumah.

Berbicara tentang rumah di Baduy Dalam, sungguh sangat menarik. Saya kagum dengan tata artistik rumah di Baduy Dalam ini. Sederhana, tetapi penuh nilai seni. Rumah Baduy adalah rumah panggung yang mengikuti kontur tinggi atau rendah tanah. Pada saat membuat rumah, warga Baduy Dalam tidak pernah merusak dasar tanah. Jika tanah memang tidak rata, mereka tidak berusaha merusak tanah tersebut.

Ada 5 tiang yang menyangga atap rumah yang berada di samping kanan dan kiri. Sementara ada 3 tiang yang berada di depan dan belakang. Batu kali yang menopang tiang-tiang bambu tersebut, yang juga menahan agar tanah tidak longsor. Sejumlah bambu yang sudah dipotong menghubungkan masing-masing tiang yang menyangga atap rumah yang terbuat dari daun kepala kering. Atap ini biasa disebut sulah nyanda. Nyanda di sini memiliki filosofi sikap bersandar. Sebab, sandaran atap tidak lurus, tetapi miring ke arah belakang.

Untuk menutup seluruh rumah dipasang bilik dari anyaman bambu atau disebut sase. Teknik pembuatan sase ini dikenal dengan nama sarigsig, dimana pembuatannya berdasarkan feeling si pembuat anyaman, karena tanpa diukur terlebih dahulu.




Luas rumah Baduy Dalam sekitar 8 x 7 m2. Interior rumah cuma ada 2 ruang. Satu ruang besar berbentul “L” dan satu ruang berukuran 2 x 4 m2. Ruang “L” difungsikan untuk ruang tamu dan untuk tidur. Sementara ruang berukuran 2 x 4 m2 itu adalah ruang serba guna, yakni ada dapur, tempat meletakkan peralatan dapur (piring, dandang, wajan, dll), dan juga untuk ruang tidur. Jika ada tamu yang datang, anggota keluarga memang tidur di ruang tersebut, sementara tamu tidur di ruang berbentuk “L” itu.

Ada yang menyebutkan ruang dalam rumah Baduy Dalam dibagi 3. Saya mengerti, barangkali rumah “L” yang saya sebutkan tadi itu mereka bagi lagi menjadi dua. Ruang di depan untuk menerima tamu dan jika tamu bermalam yang disebut sosoro. Lalu ruang berikut -masih di ruang “L” itu- difungsikan sebagai ruang tidur anak-anak sekaligus tempat makan yang lazim disebut tepas. Nah, ruang yang ada dapurnya itu sebetulnya adalah ruang tidur khusus Kepala Keluarga yang disebut Imah.

Pintu rumah harus menghadap ke Utara atau Selatan, kecuali rumah Pu’un. Terdapat kayu berukuran 5 cm yang berfungsi sebagai kunci pintu rumah. Jika ingin menutup pintu, tinggal mendorong pintu dan memalangkan kayu kecil itu ke ujung bambu.

Rumah Baduy Dalam tidak mengenal jendela. Di tiap rumah hanya menyisakan lubang kecil berukuran 5 x 5 cm untuk ‘mengintip’ yang mereka namakan lolongok. Di depan rumah, ada empat sampai enam bambu panjang yang difungsikan untuk teras, yang dalam bahasa Sunda Baduy Dalam disebut papange.

Selain ada papange, di depan rumah Baduy Dalam terdapat sosog atau keranjang sampah yang terbuat dari rajutan bambu yang mirip seperti obor bambu, dimana ujungnya berdiameter 10 cm. Lalu ada pula kele, yakni tempat air dari bambu yang mirip seperti alat musik angklung. Namun, jika angkung itu terbuka dan mengunakan bambu kecil, kele tertutup dan menggunakan bambu besar. Untuk memasukkan dan menggeluarkan air, dibuat lubang kecil.

Saya perhatikan, setiap rumah hanya memiliki kele sebanyak 4 sampai 6 kele. Air yang ada di dalam kele ini diambil dari air sungai. Selain untuk keperluan air minum, air di dalam kele juga berfungsi untuk mencuci tangan, kaki, dan bagi orang Islam seperti saya untuk berwudhu.

Setiap warga yang sudah menikah, tidak dilarang memiliki rumah. Asal punya uang dan mendapat izin Pu’un. Jadi jika ada yang mengatakan di Baduy Dalam hanya boleh berdiri 40 rumah, itu tidak benar.

Setiap ingin membangun rumah, orang Baduy Dalam memang harus minta izin pada Pu’un. Begitu Pu’un mengizinkan, seluruh kampung wajib membantu membangun rumah. Dengan cara gotong royong seperti itu, tak heran rumah orang Baduy Dalam bisa selesai dalam tempo 1 hari.

Menurut pak Narja, rata-rata biaya pembangunan rumah di Baduy Dalam sekitar Rp 3 juta. Harga ini berbeda dengan pembangunan rumah di Baduy Luar yang bisa berlipat-lipat. Bahkan ada yang bisa mencapai Rp 20-an juta per rumah. Perbadaan tersebut, karena rumah di Baduy Luar sudah banyak dimodifikasi, tidak sesederhana rumah di Baduy Dalam.

Rumah anak saya di Baduy Luar sekitar 25 juta rupiah,” ungkap pak Narja. “Kebetulan saya sempat mendapat dana dari Cikeas sebesar 20 juta”.

Mumpung masih menyisakan sedikit sinar matahari, kami diajak jalan menuju sungai dan pancuran tempat mandi kaum perempuan. Di atas sungai terdapat jembatan yang membentang, dimana mirip dengan jembatan ketika kami memasuki wilayah Baduy atau batas akhir kami boleh mengambil gambar.

Jembatan ini seluruhnya terbuat dari bambu. Oleh karena warga Baduy Dalam pantang menggunakan paku, maka untuk menguatkan jembatan, menggunakan ijuk kelapa yang sudah dibuat seperti tali. Terus terang saya kagum sekali terhadap konstruksi jembatan ini, sebagaimana kekaguman saya pada arsitektur rumah orang Baduy Dalam. Bukan sekadar kekokohan-nya, tetapi keartistikan jembatan ini. Saya bisa membayangkan, meski mereka penduduk pedalaman, namun citra seni mereka begitu sempurna. Jika tak salah, jembatan model ini sempat dipemerkan saat Pasar Seni Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun lalu.

Matahari perlahan-lahan turun. Warna keemasan masih sedikit menyisakan di dedaunan yang ada di sekitar jembatan. Suasana pun berangsur mulai gelap. Kebetulan kami sudah siap membawa senter kecil dan head lamp yang kami beli di pedagang asongan pinggir jalan.

Menjelang gelap gulita, ada empat bocah Baduy Dalam masuk ke dalam sungai. Mereka membuka baju dan kemudian berenang. Saya sempat takjub, keberanian mereka. Yang biasa saya lihat, bocah-bocah justru berenang di sungai pada saat terang benderang, anak-anak Baduy Dalam ini justru berenang saat hari mulai gelap.

Suasana gelap itu jadi penanda kami untuk segera melaksanakan sholat magrib. Saya dan teman kemudian mengambil wudhu di sungai tersebut. Saat mengambil wudhu kami masih mendengar keceriaan anak-anak Baduy Dalam yang asyik berada di dalam sungai. Di tengah kecerian itu, terdengar suara dua gadis yang melangkah dengan cepat di jembatan masuk ke dalam kampung. Sepertinya mereka habis mandi di pancuran.

Kampung sudah gelap gulita. Meski kami menggunakan senter, jalan kami masih tetap meraba-raba, takut terpeleset atau salah jalan. Saya sempat melihat ada dua kunang-kunang bersinar di dekat kami. Mungkin terlihat norak, tetapi saya menikmati sekali kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang itu. Subhanallah, indah sekalil. Saya tak akan mungkin menemukan binatang ciptaan Allah ini di Jakarta, terutama di rumah saya di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Mungkin akan ditemukan jika mata kita berkunang-kunang gara-gara stres dengan kemacetan.

Kelar sholat magrib berjamaah, kami semua keluar rumah dan duduk di papange. Subhanallah, langit begitu bersih dan penuh bintang. Seolah malam itu kampung Baduy Dalam ditaburi oleh aneka bintang yang banyak sekali. Kami beruntung bermalam di Baduy Dalam dalam kondisi cerah, meski suasana kampung gelap gulita. Kata orang, itu menjadi pertanda baik.

Lihat ada tiga bintang yang berjajar,” ujar pak Narja sambil menunjuk ke arah tiga bintang itu.

Mana?” ujar salah seorang teman kami.

Itu-tuh,” tegas pak Narja lagi.

Kalo tiga bintang itu ada di tengah, itu tanda waktu panen,” jelas pak Narja pada kami.

Malam itu benar-benar indah. Taburan bintang malam itu membuat topik kita sedikit beralih ke masalah atronomi. Terdapat banyak bintang seperti ini dalam ilmu astronomi atau tata surya adalah galaksi. Galaksi adalah tempat berkumpulnya bintang-bintang di alam semesta yang memiliki bentuk dan ukuran yang bermacam-macam, seperti spiral, elips, dan tak beraturan.

Salah seorang teman kami juga sempat berkisah tentang planet baru yang ditemukan oleh observatorium antariksa milik NASA. Planet bernama Kepler ini konon kabarnya bisa didiami oleh manusia, sebagaimana manusia mendiami bumi.

Bahkan Media Indonesia (18 Desember 2011) pernah menulis, astronom asal Indonesia yang kuliah di University of Toronto, DR. Mubdi Rahman, menemukan sekelompok bintang berukuran besar dan berusia muda di sekitar galaksi. Dari kelompok bintang yang belum pernah terlihat itu, sebagian di antaranya (yang jumlahnya ratusan) berukuran lusinan kali lebih besar daripada matahari. Sekelompok bintang yang besar itu dinamakan Dragonfish atau ikan arwana.

Kita seperti berada di Planetarium ya? Tapi bedanya bintang-bintang di langit ini asli ciptaan Allah,” papar teman saya.

Kalo lihat taburan bintang kayak gini, rasanya pengen pergi ke tanah lapang dan melihat bintang sambil tiduran,” tambah teman saya yang lain.

(bersambung)

TOUR OF BADUY DALAM # 3: PRIA TAMPAN BADUY DALAM YANG MEMBUAT HISTERIS

Mobil Elf memasuki sebuah rumah di kampung Cijahe, desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak, Banten. Di rumah tersebut sudah menunggu 6 orang dari Baduy Dalam. Sebelum keenam orang tersebut muncul, salah seorang melambaikan tangan kepada sopir kami, memberi tanda agar berhenti di depan rumah tersebut.

Ya, Allah, ganteng pisan,” komentar salah seorang rekan kami dari dalam mobil begitu melihat pria muda yang melambaikan tangan tadi.

Selama ini, kami sering mendengar bahwa penduduk Baduy Dalam itu tampan dan cantik. Ketampanan dan kecantikan mereka bukan polesan kosmetik, tetapi benar-benar alami. Kulit mereka juga terkenal halus. Mereka pun tidak bau badan, meski konon kabar mereka tidak setiap hari mandi. Saat mandi pun tidak menggunakan sabun atau pembersih kimia lain.

Syapri, begitulah nama pria muda tampan yang membuat histeris seluruh wanita di tim Tour of Badui Dalam ini. Saat ini Syapri berusia 18 tahun dan jika tidak ada rintangan pada bulan September 2012 nanti, ia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis yang sudah ditunjuk oleh Pu’un sebagai pendamping hidupnya.

Selain Syapri, orang Baduy Dalam yang menjemput kami adalah Sarip, Sarja, Sarta, dan Sarid. Sementara pimpinan kelompok penjemput kami adalah pak Narja. Barangkali Anda heran, kenapa nama pria yang menjemput kami huruf depan “S”. Bahwa nama tersebut adalah pemberian Pu’un.


Ini dia Syapri, pria Baduy Dalam. Tampan bukan?

Dalam kampung Baduy Dalam, kedudukan Pu’un sangatlah dihormati, bahkan disucikan. Menurut warga setempat, kedudukan Pu’un seperti seorang Presiden dalam sebuah negara. Sebab, selain sebagai pemimpin kampung, ia adalah pengatur hukum adat dan pengambil keputusan. Baik penentuan masa tanam, masa panen, sanksi adat, mengobati orang sakit, jodoh, nama anak, dan letak rumah, dikonsultasikan ke Pu’un.

Oleh karena Pu’un sangat dihormati dan disucikan, tak semua orang bisa berjumpa dengan Pu’un. Ia pun jarang keluar rumah. Segala operasional sehari-hari dilakukan oleh seorang yang menjabat sebagai Jaro. Pu’un memiliki rumah khusus, sebagaimana Presiden memiliki Istana Negara. Rumah ini akan ditempatkan ke Pu’un berikut. Tempat mandi Pu’un pun khusus, tidak di sungai sebagaimana penduduk biasa.

Perkataan Pu’un sangat ditaati warga Baduy Dalam. Sebab, menurut kabar, seorang Pu’un bisa membaca pikiran seseorang, baik itu pikiran baik maupun buruk. Tak heran jika seorang Pu’un pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi. Saking tinggi, Pu’un seringkali didatangi oleh sejumlah pejabat, pengusaha, dan orang-orang ambisius lain untuk berkonsultasi meminta kekayaan, jabatan, dan kesuksesan duniawi. Biasanya, setelah dibacakan mantra, para tamu kota ini akan diberikan jimat. Alhamdulillah, kami tidak melakukan aktivitas yang mengarah pada kesyirikan itu. Tujuan kami ke Baduy Dalam lebih ingin belajar hal tetang kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan, dan juga kerendahan hati.

Kembali ke nama “S” pemberian Pu’un. Bahwa huruf depan pada pria Baduy Dalam harus berdasarkan nama depan sang ibu. Jika nama depan si ibu “S”, maka huruf depan pada nama anak laki-laki tersebut harus “S”. Sebaliknya, huruf depan pada nama anak perempuan itu berdasarkan huruf depan sang bapak.

Tepat pukul 15:55 WIB, kami berangkat menuju ke Baduy Dalam. Seperti sudah diduga, keenam warga Baduy Dalam tersebut selain membantu menjadi penunjuk jalan, mereka juga bertugas membantu kami mengangkut ransel. Awalnya saya sok kuat membawa ransel besar yang cukup berat, tetapi begitu mereka menawarkan untuk membawakan, saya curiga, pasti medan yang akan kami tempuh akan berat.


Kalo fisik Anda nggak OK, mending jangan berani-berani pergi ke Baduy Dalam, deh. Sebab, bakal menyusahkan banyak orang.


Benar, dugaan saya. Medan yang kami lalui berat. Kami harus naik dan turun bukit. Makin berat, ketika melewati tanah yang benar-benar becek dan licin, akibat tersiram hujan. Tak heran sebagian teman saya ada yang sempat terpeleset jatuh atau sekadar sepatu sandalnya sulit untuk digerakkan, karena lengket dengan tanah.

Bagi Anda yang tidak terbiasa berjalan kaki, olahraga, atau smoker, pasti akan mengalami kelelahan menghadapi medan ini. Bukan cuma pegal kaki, tetapi juga nafas yang ngos-ngosan. Anda jangan membayangkan jalan sehat di kebon teh di Puncak, karena medan itu belum apa-apa.

Teman-teman dari Baduy Dalam ini luar biasa. Ketika hampir semua anggota tim ngos-ngosan dan beristirahat beberapa detik untuk menghilangkan keletihan, mereka tetap lincah bergerak. Padahal mereka membawa ransel-ransel kami yang cukup berat. Bahkan sesekali dengan gesit mereka mendahului anggota tim untuk membantu agar tidak terpeleset.

Apa sih rahasianya, Pak?” tanya saya, menyelidik pola mengatur nafas di medan sebarat itu.

Ya jalan dan nafas seperti biasa aja,” ujar pak Narja merendah sambil tersenyum.

Pasti bisa, karena biasa. Teman-teman dari Baduy Dalam ini sudah terlatih jalan di medan ini, naik dan turun di bukit yang curam, licin, dan becek. Mereka juga pasti terbiasa cepat berjalan, menyusuri perlintasan di bukit ini. Tidak seperti kami yang buat mereka cukup lambat. Tak heran, jarak 7 KM yang seharusnya oleh orang Baduy Dalam bisa ditempuh dalam tempo 45-60 menit, jadi 145 menit.

(bersambung)

TOUR OF BADUY DALAM # 2: PERANG PROMOSI SINYAL KUAT 3 OPERATOR SELULAR

Sejak keluar dari pintu tol di Rangkasbitung, saya sempat menghitung jumlah pasar yang kami lewati. Seperti biasa, setiap lewat pasar, semua kendaraan memperlambat laju. Tak heran terjadi kemacetan, karena antrean kendaraan tersebut. Yang menyebalkan, di tengah kemacetan seperti ini, ada saja kendaraan yang kurang disiplin, menyalip dari kanan atau kiri.

Saat kemacetan terjadi, tepatnya ketika kami melewati Pasar Jayanti Serang, seorang Petugas DLLAJR tiba-tiba mengentikan mobil Elf kami. Polisi bertubuh tambun dan berkaca mata hitam itu bertanya pada sopir kami.

Kok KIR-nya belum diperpanjang?” ujar sang petugas pada sopir kami.

Sudah kok pak?” jawab sopir kami.

Coba menepi dulu. Saya lihat surat-suratnya.”

Saya dan penumpang mulai menggerutu dengan kejadian tiba-tiba ini. Tour guide kami, Imung, bahkan mengecap, Petugas ini cuma mau cari uang, apalagi setelah sang sopir menjelaskan, bahwa KIR beres. Petugas DLLAJR ini rupanya tidak melihat ada stiker di sisi kiri kendaraan yang tertulis masa berlaku 23 Agustus 2012. Ia hanya melihat sisi kanan, dimana tertulis masa berlaku KIR 25 Februari 2012.

Papan petunjuk yang ada di sisi kanan menunjukan 25 KM lagi ke arah Rangkasbitung. Tepat di KM 17, perut saya sudah terasa minta diisi makan. Kebetulan selesai sholat Jum’at, kami tidak langsung makan. Tour guide kami sudah menyiapkan tempat makan yang sudah menjadi langganannya. Sebagai ‘prajurit’ kami ikut, meski perut bunyi krucuk-krucuk gara-gara menagih makan.

Alhamdulillah, kami akhirnya sampai di sebuah restoran yang arsitekturnya memperlihatkan relatif sepuh. Memang bukan arsitektur kolonial, tetapi nampak tua. Baik pintu, jendela, maupun kusen, terlihat khas bangunan tahun 70-an. Melihat kondisi bangunan seperti itu, saya dan barangkali teman-teman yang lain saat itu menduga, makanan yang disajikan adalah makanan jadul yang khas Rangkasbitung.

Ternyata saya salah. Makanan yang disajikan bukan makanan tradisional, tetapi nasi rames, sop daging, dan ayam bakar kampung. Minumannya pun juga standar atau tidak ada minuman khusus, misal jus Rangkasbitung misalnya. Tak heran, supaya beda dari teman-teman lain yang memesan es teh manis, saya pesan es cendol.

Es cendolnya dahsyat!” komentar saya begitu selesai menyeruput.

Saya dan teman-teman baru tahu, kenapa Imung mengajak kami makan di restoran bernama Ramayana ini. Menurutnya, sejak mengantarkan tamu-tamu ke Baduy, ia selalu mengajak makan ke restoran yang sudah berdiri sejak 1975 ini.

Gue nggak pernah ngajak ke restoran lain, selalu ke sini,” promosi Imung. “Lidah gue sudah cocok dengan masakan di restoran ini”.

Bukan cuma Imung, kami semua juga setuju, bahwa masakan di restoran Ramayana yang berlokasi di jalan Multatuli no 71, Rangkasbitung ini memang mantap. Tak cuma nasi rames, cendol, tetapi juga sopnya, termasuk sambalnya. Bahkan ada salah satu teman kami berniat banget membawa sambal restoran ini ke Baduy Dalam. Namun menurut pelayan, restoran ini tidak melayani pembelian cuma sambal. Mendengar hal tersebut, pupuslah harapan makan sambal Ramayana di Baduy Dalam.

Kelar makan, kami melanjutkan perjalanan melalui jalan di daerah Lewimidamar, Sudamanik, Lebak. Jalan daerah ini terkenal rusak. Maklum, banyak truk hilir mudik melewati jalan ini. Truk-truk ini adalah truk pengangkut pasir yang membawa pasir-pasir menuju ke kota.

Saat melewati wilayah Sudamanik, saya sedih sekali melihat kondisi sekitar. Bukan jalan yang rusak, tetapi bukit-bukit yang ada di sebelah kanan dan kiri nampak rusak, karena dieksplorasi. Rasa nikmat sehabis makan di restoran Ramayana sudah hilang ketika melihat pemandangan itu. Entah sampai kapan eksplorasi ini akan segera berakhir, tapi sepertinya masih akan terus berlangsung dan akhirnya akan menghabiskan seluruh bukit yang ada di sekitar wilayah itu.

Seperti juga di Jakarta, jalan rusak parah itu dimanfaatkan oleh sejumlah penduduk untuk meminta sumbangan pada kendaraan yang melewati jalan. Padahal saya yakin banget, sebanyak apapun recehan yang dikumpulkan penduduk-penduduk ini, tidak berpengaruh banyak pada kondisi jalan yang memang banyak rusak. Bukan mau seudzon, beberapa kali saya amati aktivitas seperti mereka ini menambal jalan sekadarnya, sementara sisa uang untuk rokok atau jajan.

Kami akhirnya memasuki wilayah Ciboleger. Artinya, sebentar lagi sampai di ujung perjalanan kami menuju Baduy. Saat masuk ke Ciboleger, hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami. Padahal saat itu matahari masih bersinar cerah. Langit tak terlihat mendung. Tetes hujan itu menyebabkan jalan beraspal yang semula panas, karena terkena terik matahari, mengeluarkan asap.

Beberapa menit sebelum berhenti di perhentian mobil terakhir di Ciboleger, nampak sebuah BTS atau tower tegak berdiri. Kami serentak langsung melihat sinyal dari masing-masing alat komunikasi yang kami bawa. Maklumlah, hampir sepanjang perjalanan menuju ke Ciboleger sinyal semua operator selular lemah, bahkan ada yang tidak mendapatkan sinyal sama sekali.

Nampak dua spanduk operator yang berperang. “Di sini sinyal paling kuat Telkomsel”, begitu spanduk pertama berpromosi. Begitu teman kami pengguna operator itu mengecek, ternyata tidak terbukti. Begitu pula dengan spanduk operator lain: “Hanya sinyal Indosat yang kuat di sini”, yang ternyata juga tidak terbukti. Satu spanduk yang bergambar Tukul Arwana pun juga tidak terbukti mengalahkan dua operator selular yang mengaku paling kuat itu.

Untung kami tak peduli perang operator selular tersebut, apalagi kami pun curiga dengan BTS yang tegak berdiri di Ciboleger ini belum berfungsi. Yang kami peduli, cepat sampai ke pos terakhir dan langsung menuju ke Baduy Dalam. Toh, di Baduy Dalam kami juga tidak akan menggunakan gadget secanggih apapun. Sebab, sejak awal tim Tour of Baduy Dalam ini memang sepakat untuk menjalani hidup tanpa tergantung dengan teknologi apapun, baik itu radio, televisi, listrik, maupun gadget.

(bersambung)

Sabtu, 24 Maret 2012

TOUR OF BADUY DALAM # 1: JANGAN BERANI-BERANI MELANGGAR ATURAN....

Ketika tawaran itu datang, saya langsung mendaftar. Bagi saya, tak semua orang bisa dengan mudah masuk ke dalam kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (selanjutnya disebut Baduy Dalam). Selama ini, kebanyakan pelancong hanya mampu berkunjung sampai ke Baduy Luar. Terlebih lagi, tidak semua orang bisa masuk ke Baduy Dalam di masa perayaan Kawalu.

Perayaan Kawalu adalah salah satu tradisi ritual warga Baduy Dalam. Selama melaksanakan Kawalu, seluruh warga Baduy Dalam berpuasa dan tinggal di rumah masing-masing. Tak heran, sebetulnya selama perayaan Kawalu, perkampungan Baduy Dalam, yang meliputi Cikawartana, Cikeusik, dan Cibeo tertutup bagi penggunjung. Meski pejabat daerah atau pejabat negera, mereka tidak diperkenankan masuk ke Baduy Dalam. Namun Alhamdulillah, sobat kami, Imung, yang juga menjadi tour guide dan penyelenggara, diizinkan memasukki Baduy Dalam.



Harap maklum, Imung sudah akrab dengan warga Baduy Dalam. Bahkan ia sudah dianggap sebagai keluarga di tempat itu. Interaksinya dengan orang Baduy sudah terjadi sejak tahun 90-an. Ia masih ingat, salah satu anggota keluarga di Baduy Dalam yang menjadi tour guide bernama Sapri, usianya baru 1,5 tahun.

Sekarang usianya sudah 18 tahun dan sebentar lagi menikah,” ingat Imung.

Ia pun mengingat, ketika pertama kali datang, jalan menuju ke pemberhentian terakhir mobil di Ciboleger, masih belum beraspal mulus seperti sekarang. Lebih dari itu, tahun 1990-an, wanita-wanita Baduy Dalam masih topless.

Mereka baru memakai pakaian sekitar tahun 1995-an,” ujar Imung lagi.

Perjalanan menuju Baduy Dalam ini dimulai dari Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta selatan. Di tempat ini, tim Tour of Baduy Dalam ini berkumpul. Selain saya, ada istri saya dan sembilan rekan lain. Total tim terdiri empat pria dan tujuh wanita. Tepat pukul 8, kami berangkat menggunakan mobil Isuzu Elf bernomor B 7934 AB.

Sepanjang perjalanan Imung mengisahkan sejarah Baduy dan aturan-aturan yang berlaku selama berada di Baduy Dalam. Jika tidak mentaati aturan yang berlaku, Anda akan mendapat konsekuensi yang menyulitkan Anda sendiri. Imung sendiri pernah punya pengalaman berputar-putar di bukit selama 2 kali untuk menuju ke pos terdekat di Ciboleger, padahal seharusnya jarak yang ditempuh cuma 20 meter.

Saya introspeksi kenapa bisa muter-meter, ternyata sebelumnya saya punya salah,” ujar Imung. “Setelah minta maaf ke orang Badui, perjalanan saya lancar.



Saya bersama tim Tour of Baduy Dalam, dan teman-teman baru dari Baduy Dalam yang menjemput kami.

Pengalaman sobat kami itu tentu menjadi bekal yang sangat berharga ketika kami berada di Baduy Dalam. Sebetulnya bukan cuma di Baduy Dalam, di tempat lain dan dengan siapa pun, ketika kita memiliki kesalahan, pasti akan ada balasan atas kesalahan kita.

Imung berkisah lagi tentang pengalaman sorang Pendaki gunung terkenal di tanah air yang sempat mencuri Arca Domas yang sangat disucikan oleh warga Baduy Dalam. Percaya tak percata, belum juga masuk ke dalam rumah, Pendaki ini kaget ketika seorang Baduy Dalam berada di depan rumahnya dan meminta agar Arca itu segera dikembalikan. Padahal, pada saat membawa Arca, Pendaki ini naik kendaraan umum, sementara orang Baduy pantang naik kendaraan, melainkan jalan kaki.

Sekadar info, Arca Domas adalah objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Baduy Dalam, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Baduy Dalam mengunjungi lokasi tersebut jika mereka ingin melakukan pemujaan, dimana dilakukan setahun sekali pada bulan Kalima (salah satu bulan dalam hitungan warga Kanekas). Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang bisa melakukan pemujaan.

Di kompleks Arca Domas terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Jika saat pemujaan batu lumpang terdapat penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Baduy Dalam itu tanda hujan pada tahun tersebut akan banyak turun dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, jika batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (sumber: Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi dalam penafsiran ruang masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net). Nah, bisa terbayang jika Arca Domas tersebut dicuri oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Sebagai anggota Wanadri, alumni Sastra Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI, sekarang Fakultas Ilmu Budaya) ini juga punya pengalaman lain tentang ‘keanehan-keanehan’ dari orang Baduy Dalam. Ada kisah lagi, dimana terjadi di sungai Ciboleger. Di tempat itu, ada sebuah jembatan yang sangat eksotik terbuat dari bambu. Suatu ketika, salah seorang rekan Imung melihat orang Baduy Dalam berjalan di atas air.

Tadi saya lihat Bapak jalan di air?” tanya rekan Imung pada seorang Bapak.

Itu kan jalan saya juga,” ujar sang Bapak enteng.

Itulah tanda, bahwa orang Baduy, khususnya Baduy Dalam, sudah menyatu dengan alam. Mereka tidak pernah menyakiti alam. Bagi mereka, tumbuhan maupun air harus dijaga dengan baik. Tak heran, mereka tidak pernah mandi atau mencuci dengan menggunakan sabun atau diterjen yang mengandung zat kimia. Mereka pun tidak pernah menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi. Sebab, baik sabun mandi, diterjen, maupun pasta gigi akan merusak kesucian air.

Begitu pun dengan tumbuhan dan ladang. Warga Baduy Dalam tidak memelihara binatang ternak berkaki empat, seperti kerbau maupun kambing. Menurut mereka, binatang-binatang tersebut akan merusak tumbuhan. Jangan heran, ketika ada peristiwa Pengembala menternakkan hewan berkaki empat di area tanah ulayat warga Baduy Dalam, mereka protes. Mereka juga memprotes jika ada orang luar memapas tumbuhan yang ada dalam kawasan mereka. Ini terjadi di era Soeharto.

Protesnya bukan ke Lurah, DPRD, atau Gubernur, tetapi langsung ke Bapak Gede,” ujar Imung. “Bapak Gede adalah sebutan mereka untuk Presiden”.

Bagi orang Baduy Dalam, setiap meninggalkan kawasan, mereka harus bertanggung jawab terhadap kawasan itu. Begitu mereka ingin membuka rumah baru, maka lahan yang mereka tinggalkan itu harus dikembalikan seperti sediakala. Itulah bentuk penghargaan orang Baduy Dalam terhadap alam.

Mereka itu sebetulnya orang yang berilmu, tetapi sikap mereka selalu rendah hati,” tambah Imung.

(Bersambung)

Sabtu, 05 November 2011

JAKARTA BERKEBUN: BERKEBUN TANPA HARUS PUNYA KEBUN

Saya adalah satu dari jutaan orang yang tidak punya kebun. Beruntunglah Anda yang masih punya kebun, baik tepat di rumah Anda, maupun lahan luas di luar kota milik Anda. Namun “kemiskinan” saya -karena tidak memiliki kebun- tidak serta merta membuat saya frustrasi. Alhamdulillah, istri saya berhasil menjerumuskan saya ikut komunitas yang mengajak saya (baca: kami) yang tidak punya kebun, tapi punya passion berkebun.

Sore ini, untuk kesekian kalinya saya ikut komunitas “Jakarta Berkebun”. Kali ini, kami -para anggota- diajak menanam bibit beberapa tanaman, mulai dari jaggung sampai tomat. Sebelumnya, saya dan keluarga sempat mengikuti aktivitas panen ubi di kebun yang sama, yakni di sebuah tanah milik Springhills, Kemayoran, Jakarta Pusat.


Nggak cuma orangtua, tetapi anak-anak juga bisa turut serta di Jakarta Berkebun. Nggak ada kriteria macam-macam, jika Anda tertarik, silahkan gabung.

Kenapa sih di Springhills? Kebetulan lokasi di Kemayoran ini merupakan pilot project yang akan diterapkan di berbagai pelosok Jakarta, dan di kota-kota besar lainnya. Di lahan yang baru di-launch Februari 2011 ini, Jakarta Berkebun meminjam area kosong seluas 10.800 meter persegi milik Springhill Group di kawasan The Royale Springhill Residence, Kemayoran.

“Seru!”

Yap! begitulah suasana Jakarta Berkebun. Betapa tidak, bagi kami yang tidak memiliki lahan besar untuk berkebun serasa memiliki: bisa tanam sendiri, memanen sendiri. Namun sebelum memanen, kita diberikan ilmu berkebun dulu oleh sang Kepala Sekolah Jakarta Berkebun, yakni Ibu Ida.

“Berkebun nggak harus punya kebun,” ujar Ibu Ida di hadapan anggota komunitas Jakarta Berkebun. “Kalo kita nggak punya kebun, tanam di pot. Kalo nggak punya pot, tanam di kaleng bekas biskuit”.

Intinya, dimana pun kita bisa berkebun. Di tengah keterbatasan lahan di Jakarta, berkebun ternyata bisa dimana saja, seperti kata Ibu Ida di atas tadi. Nah, kalo Anda penasaran ingin berkebun di halaman yang luas seperti saya, sepertinya Anda wajib ikut komunitas Indonesia Berkebun ini.

Sekadar info, Jakarta Berkebun ini digagas oleh Ridwan Kamil -seorang arsitek terkemuka- untuk mencoba ‘menyelipkan’ suasana pedesaan yang lebih alami dan hijau di antara rimba pusat perbelanjaan dan bangunan beton di Ibu Kota.













Jakarta Berkebun memanfaatkan ruang-ruang terbengkalai, baik tanah-tanah yang tidak terurus, yang belum dibangun, atau tanah-tanah sisa yang memang tidak dimanfaatkan, sehingga dapat difungsikan menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Milly Ratudian Purbasari, pemimpin gerakan Jakarta Berkebun, memaparkan bahwa hal itu memprihatinkan karena pada akhirnya lahan-lahan kosong itu hanya menjadi tempat penimbunan sampah dari tempat-tempat di sekitarnya.

Baik Ridwan maupun Milly berharap, kemunculan Jakarta Berkebun pada akhirnya akan berdampak meluas ke seluruh daerah seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Bahkan komunitas berkebun ini menyebar juga di beberapa kota seperti di Banten, Padang, Solo, Pontianak, Tasikmalaya, Medan, dan Semarang.

Yuk kita berkebun!

Minggu, 12 Juni 2011

MULYONO ALIAS MIE EDI: LEGENDA BAKMI TEBET

Jangan sekali-kali mengaku warga asli Tebet kalo tak kenal nama Edi. Bagi mereka yang masih tinggal di Tebet sampai dengan tahun 80-an, mie ayam yang mangkal di sebuah sekolah dasar ini sangat legend. Bukan cuma soal rasa, tetapi harganya relatif terjangkau untuk ukuran warga menengah ke bawah.

Di samping sekolah yang dikenal dengan sebutan SD Bedeng itulah Edi pertama kali mangkal. Dengan modal gerobak reot, Edi memulai usaha mie ayamnya, dimana awalnya untuk murid-murid SD itu dan warga sekitar Tebet Timur Dalam. Waktu itu harganya masih 250 perak semangkuk.

“Waktu itu harganya baru,” ujar pria bernama asli Mulyadi ini.


Nyatanya mie ayam Edi tidak cuma tersohor di kalangan guru-guru, murid-murid SD Bedeng, maupun warga Tebet Timur Dalam, tetapi hampir seluruh Tebet mengenal mie ayam Edi, sebagaimana warga Tebet mengenal warung tegal mojok yang dikenal dengan nama Warmo.

Saking tergila-gila dengan mie Edi banyak pelanggan yang punya pengalaman buruk makan di mie Edi, tak kapok datang lagi ke situ. “Padahal ada pelanggan yang sempat kehilangan mobil pas makan,” kata pria asal Boyolali ini. “Waktu makan ada orang yang sudah teriak-teriak ‘mobilnya jalan sendiri tuh!’, eh tapi dia tetap makan mie saya”.

Ada lagi cerita soal pelanggannya yang kaca mobilnya sempat dipecahkan maling, tetapi dia cuek dan tetap menyantap mie Edi. Padahal seluruh barang pribadi yang ada di dalam mobil ludes dicuri. Nampaknya, pelanggan itu lebih sayang kehilangan kenikmatan menyantap mie Edi, ketimbang barang-barang milik pribadi yang ada di dalam mobil.

“Kalo datang ke mie Edi, rasanya seperti mengingat masa kecil dulu,” ujar Sindhi, salah seorang warga asli Tebet yang kini bermukim di Cempaka Putih.

Selain Sindhi, banyak pelanggan Edi yang masih setia menyantap mie buatannya. Hebatnya, para pelanggannya itu sudah menjadi “orang”. Ada yang sudah menjadi bos di perusahan besar, pengusaha, bahkan ada seorang pelanggan yang sekarang menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014.

Sejak tahun 2006, Edi tidak mangkal lagi di Tebet Timur Dalam. Padahal hampir seluruh warga Tebet tau, Edi mangkal di situ. Warung mie Edi kini berada persis di samping Pasar di dekat stadion Persatuan Sepakbola Tebet Timur (PSPT), tepatnya di Tebet Timur Dalam Raya no. 64.

“Saya mulai kontrok dengan harga Rp 11 juta tahun, kini (di tahun 2011) sudah Rp 25 juta per tahun,” ujar Edi.


Tampak muka warung mie Edi di Tebet Timur Dalam Raya.

Kini selain dibantu empat asistennya, Edi juga dibantu oleh anak pertamanya. Sepertinya, anak pertama dari 3 anaknya ini akan dipersiapkan menggantikan usaha mie ayamnya yang sudah melegenda di Tebet ini. “Tadinya saya sudah bilang pada anak saya kalo memang nggak niat kuliah, ya usah kuliah. Ternyata dia nekad kuliah, eh tetapi baru semester ke-9 sudah keluar dan kawin,” ungkap Edi berkisah tentang anaknya yang sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional (Unas).

Saya bukan warga asli Tebet, tetapi tiap kali meluncur ke Tebet, biasanya akan menyantap mie Edi ini. Kalo tidak menyantap mie ayamnya, biasanya saya menyantap semangkuk mie goreng plus es teh manis.

Rabu, 08 Juni 2011

JAKARTE PUNYE CERITE

Tak lama lagi, Jakarta akan berulangtahun ke-484. Dalam rangka HUT Jakarta, saya mencoba membuat beberapa fakta perkembangan ibukota ini paska-penjajahan Belanda. Saya tidak akan bercerita lagi mengenai kemenangan pasukan Fatahillah melawan pasukan Belanda dalam merebut tanah Batavia.

Kisah mengenai sejumlah fakta mengenai pembangunan Jakarta di bawah ini saya ambil dari berbagai sumber dan tidak berurutan. Semoga bermanfaat untuk Anda sebagai referensi sejarah Jakarta. Selamat membaca!

1. Sebelum pendudukan balatentara Jepang, diperkirakan penduduk Jakarta sekitar 500.00 jiwa. Antara tahun 1948-1951, terjadi migrasi dan urbanisasi rata-rata tiap tahun 118.563 jiwa. Jadi bisa dikatakan, sejak Jakarta baru berdiri dan bernama Kotapraja Jakarta sudah memikul beban dari kota-kota lain. Tak heran awal tahun 50-an, penduduk Jakarta mencapai 2 juta jiwa.

2. Parcaya tak percaya, awalnya wilayah Kebayoran semula diperuntukan lapangan terbang baru. Namun akhirnya Kebayoran dijadikan kota satelit untuk mengatasi kebutuhan perumahan.

3. Rancangan awal wilayah Kebayoran -yang memiliki luas 730 hektar ini- dibuat oleh Ir. V.R. van Romondt pada 1937. Konsep Romondt Kebayoran adalah kota taman.

4. Sampai sekarang wilayah sekitar Blok M masih sering disebut CSW. Padahal CSW itu bukan nama sebuah wilayah, tetapi sebuah yayasan yang punya hak merancang pembangunan di sekitar situ pada tahun 1948. CSW sendiri singkatan dari Centrale Strichting Wederopbouw.

5. Dari tahun 1950 sampai tahun 1952, pemerintah daerah DKI Jakarta membuka daerah-daerah baru, yang semula rawa atau kebun peninggalan Belanda. Ada 205 hektar tanah yang dibuka untuk perumahan, perkampungan, sekolah, dan pabrik, yakni di daerah jalan Plaju, Kebon Sereh, Grogol, Rawasari, Tanah Tinggi, Sentiong, dan Pejompongan.

6. Mampang Prapatan dahulu adalah kawasan peternakan rakyat. Sampai tahun 2011, masih tersisa peternakan sapi perah.

7. Pada 1950, ada 4 status tanah di Jakarta, yakni tanah kotapraja, tanah negara, tanah pribadi, dan tanah swasta. Sekitar 3.566 hektar tanah swasta yang berada dalam kondisi tidak terurus, berubah menjadi perkampungan sesak dan kumuh.

8. Atas bantuan dari Amrika Serikat, jalan by pass yang dikenal dengan jalan Ahmad Yani yang menghubungkan Tanjung Priuk-Cawang diresmikan pada 23 Oktober 1963. Jalan ini difungsikan setelah pemerintah membuka beberapa lahan di sekitar itu, antara lain 270 hektar di wilayah Pulomas serta 300 hektar di Cipinang Galur.

9. Sampai dengan tahun 1961 pemerintah Jakarta masih mengeluarkan ketentuan besar dan ketinggian bangunan di beberapa jalan protokol. Misal di jalan Thamrin, jalan Sudirman, dan jalan Kramat Raya, jalan Salemba Raya, jalan Matraman Raya, sampai Jatinegara ditetapkan, ketinggian bangunan tidak boleh lebih dari 4 lantai. Antara Slipi, Mampang Prapatan, segitiga Cawang sampai persimpangan Celilitan ketinggian bangunan tidak boleh lebih dari 3 lantai.

10. Pada 1961 digulirkan proyek Cempaka Putih yang sifatnya non-profit. Di atas luas wilayah 235 hektar, didirikan perumahan pegawai Pemda, dimana dana pertama diperoleh dari perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan Pemda.