Kala melancong ke Jerman, salah satu kota yang saya jelajahi adalah Karlsruhe. Nah, tulisan saya mengenai Karlsruhe ini saya kirimkan harian Republika beberapa waktu lalu. Berikut tulisan utuh yang dimuat di Republika Online (ROL), dimana diambil dari tulisan yang sudah diterbitkan di koran.
Selamat membaca!
"...dibilang backpacker bisa,nggak dianggap ya bisa juga..." "...dibilang suka makan, ya begitu, dituduh tahu kuliner nggak juga..."
Jumat, 28 Agustus 2015
Minggu, 04 November 2012
Berkunjung ke Rumah Kebun Aquaponic Fadly Padi
“Doomsday preppers!”
Begitu kata Andy Fadly Arifudin
alias Fadly tentang rumah kebunnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Jelas vokalis band Padi ini, konsep rumah dengan kebun aneka tumbuhan
ini sengaja ia buat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan akan sayuran organik dan protein hewani.
“Kita makan apa yang kita tanam,” ujarnya.
Istilah doomsday preppers (DP) atau ‘preppers kiamat’ ini diakuinya, saat ia nonton di National Geographic (Nat Geo), yakni di situs www.gardenpool.org. DP adalah acara reality showdi kanal National Geographic (NatGeo). Konsepnya menggambarkan aktivitas orang-orang yang mempersiapkan diri menghadapi akhir peradaban. Salah satu persiapan adalah memproduksi sendiri kebun berisi tanaman untuk kebutuhan hidup. Sehingga, pada saat musim kelaparan tetap memiliki stok makanan.
“Saya pikir (DP) ini sama dgn yang saya bikin. Cuman orang Amerika
lebih lengkap. Mereka bersiap untuk kejatuhan Dollar. Saya merasa, kita
semua sudah berada di akhir zaman, dimana suatu saat tanaman akan
menjadi alat tukar.”
Bloggers,
terlepas dari fenomena DP, saya beruntung bisa berkunjung ke rumah
kebun Fadly Padi siang kemarin. Kebetulan istri saya, Sindhi, yang aktif
di #IndonesiaBerkebun
mengabarkan pada saya, bahwa komunitas yang bergerak dalam berkebun,
ingin melakukan kunjungan ke rumah Fadly. Sudah sejak lama saya ingin
melihat rumah kebunnya yang inspiratif ini. Alhamdulillah, impian saya tercapai.
Bloggers,
Fadly membangun kebun di atas tanah seluas 386 m2 ini sejak 2012. Di
tanah ini, ada bangunanan. Sementara sekitar 150 m2 dipergunakan untuk
kebun. Sebelum menjadi kebun, rumah pria
kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 1975 sekadar rumah
‘biasa’, sebagaimana rumah-rumah tetangga sebelahnya. Ada bangunan, plus
tanah dengan tanaman ala kadarnya.
Ia
membeli rumah kebun yang lokasinya di gang persis di seberang lapangan
udara Pondok Cabe ini pada 2007. Saat itu, ia ditawari oleh Dika, pemain
bas Ada Band, yang tak lain sepupunya. Si pemilik menjual tanah
bersertarumah tua seluas kurang lebih 500 m2. Dari luas itu, Fadly dan
Dika membagi dua.
“Saya mengambil tanah 386 meter persegi, plus bonus rumah tua ini, sementara Dika mengambil sisanya,” jelas suami Dessy Aulia ini.
Dua
tahun setelah dibeli, barulah Fadly giat menjadikan rumahnya penuh
dengan tanaman. Tak kurang dari pak choy, cabe, sereh, pohon salam, jahe
merah, binahong, lengkuas, pandan, tomat, basil, timun suri, kacang
panjang, dan kemangi. Ada pula buah-buahan, mulai dari alpukat, sirsak,
manggis, jambu, pepaya, pisang ambon, dan durian.
“Alhamdulillah, targetnya kebun ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar ayah dari Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan ini.
Bloggers,
melihat aneka jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di kebun Fadly
ini, jelas sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Betapa tidak,
ingin memasak sayur, tinggal ambil di kebun. Untuk lauk-pauk, ia juga
memiliki kolam ikan. Jika sebelumnya, ia memelihara ikan lele, ketika
saya berkunjung, yang ada di kolam adalah ikan nila.
“Di kolam ini lela cuma bertahan 2 bulan. Bukan karena mati, tapi kita makanin terus,” papar mantan vokalis Mr. Q. Band dari Surabaya, yang kini sedang mempersiapkan mengelola ribuan lele di dalam sebuah bekas watertoren ini.
Dalam mengelola kebunnya, Fadly cukup kreatif. Ia rajin mengumpulkan barang-barang bekas dan memanfaatkannya menjadi pot. Ada bekas bath tube, gentong air, botol minuman mineral, watertoren,
dan barang bekas lain. Selain digunakan untuk pot, ia memanfaatkan
botol minuman mineral untuk membungkus bambu-bambu yang menjadi
penyangga tanaman di kebun itu.
“Bambu ini diplastikan supaya tidak kena rayap,” jelas Fadly, yang mengurus kebunnya ini bersama 2 orang lain. “Rayap
nggak mungkin masuk, karena nggak ada celah untuk masuk, karena bambu
sudah terbungkus plastik. Kalo kena air, bambu juga nggak cepat lapuk.
Soalnya kalo penyangga nggak mau cepat lapuk harus pake kayu jati dan
itu jelas mahal.”
Tentu
untuk mengumpulkan, Fadly harus hunting. Namun, katanya, ia hunting
jika mau cari kolam dan growbed untuk Aquaponic. Huntingnya pun dekat
rumah. Khusus untuk bamboo, ia mengaku punya teman penjual bambu dan lapak barang bekas, dimana biasa mengantarkan botol minuman mineral bekas dan bambu ke rumah kebunnya.
Selama ini, ia belajar berkebun dengan otodidak, termasuk belajar Aquaponic. Khusus Aquaponic, ia belajar dari YouTube dan berbagai sumber internet. Juga dari buku karya Sylvia Bernstein berjudul Aquaponics gardening.
Bagi Bloggers
yang belum tahu, Aquaponics adalah campuran antara budidaya ikan atau
peternakan ikan dan hidroponik atau budi daya tanaman dengan menggunakan
sedikit tanah dalam sistem tertutup. Dengan naiknya harga bahan bakar
dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, Aquaponics bisa
menjadi alternatif.
Menurut Sylvia Bernstein, “Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami.”
Sistem Aquaponic ini menarik dan semakin banyak orang di seluruh dunia berkebun Aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun. Di India, Aquaponics dijadikan salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat dalam 10 tahun terakhir ini. Menurut Fadly, sibuknya hanya di awal-awal pada saat membangun system. “Setelah itu tingggal menyemai dan menanam. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyibukkan.”
Selain tidak menyibukkan jika ssstem sudah berjalan, dari segi pendanaan pun relatif murah meriah. Ungkap Fadly, dana yang dibutuhkan untuk perawatan, paling cuma membayar tagihan listrik dan pembelian benih. Selama berkebun dengan Aquaponic ini, tagihan listriknya setiap bulan sekitar Rp. 200.000. Lalu, tenaga kerja cuma datang 2 kali sepekan.
“Mereka datang untuk nge-check mesin pompa.”
Bloggers, tentu saja, selain fokus berkebun dengan Aquaponic-nya,
Fadly tetap bergabung dengan rekan-rekannya: Ari (gitar), Yoyo (drum),
Rindra (bas), dan Piyu (gitar) di Padi. Maklumlah, ia adalah pendiri
band yang didirikan pada 8 April 1997 ini. Belakangan, ia sedang
mengerjakan proyek bersama Rindra, Yoyo, dan Stephan Santoso dengan nama
Musikimia.
“Kita cuma berempat. Anggotanya memang minimalis, tetapi musiknya maksimalis,” jelas Fadly, yang aliran musiknya seperti Soundgarden atau Led Zeppelin.
Musikimia
ini adalah proyek Fadly dan kawan-kawan selama mengisi kekosongan Padi
yang sedang vakum. Band ini sendiri dimanajeri oleh Ari, yang tak lain
adalah gitaris Padi, selain gitaris utama: Piyu. Di Musikimia, selain
menjadi Manajer, Ari juga bertindak sebagai co-Producer dan fokus di belakang layar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album.
Bloggers, sebelum
saya dan teman-teman dari #IndonesiaBerkebun pamit pulang, Fadly sempat
ditodong nyanyi. Awalnya ia malu-malu. Namun, karena didesak oleh
permintaan para ‘ibu-ibu’, Fadly pun menyerah. Ia pun menyanyi sepotong
lagu Padi sambil memainkan gitarnya.
Jumat, 12 Oktober 2012
DKI Jakarta Siap Operasikan Bike Path, Jalur Sepeda Paling Aman
ak akan lama lagi para pesepeda di DKI Jakarta akan memiliki bike path. Tak seperti bike line, bike path
merupakan jalur khusus sepeda. Tak boleh ada kendaraan lain selain
sepeda, termasuk motor, yang diizinkan masuk ke jalur sepeda.
Selama ini, DKI Jakarta hanya memiliki bike line. Di Blok M, Jakarta Selatan misalnya. Ada jalur hijau yang merupakan bike line. Selain Blok M, beberapa lokasi yang sudah punya jalur sepeda adalah adalah Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, Sentul City dan Jababeka. Namun sayangnya bike line ini tidak efektif, karena jalurnya masih menyatu dengan kendaraan umum lain. Motor seringkali menyerobot masuk ke bike line. Pun mobil seenaknya parkir di jalur yang sebenarnya khusus untuk sepeda itu. Metromini atau angkot berhenti seenaknya menghalangi jalur sepeda. Oleh karena itu, pembangunan bike path sangat dinantikan pesepeda.
Menurut rencana, bike path akan dioperasikan ruas-ruas menuju jalan protokol di Jakarta. Namun, untuk periode pertama, bike path baru dilakukan di Kanal Banjir Timur (KBT). Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Udar Pristono, saat ini bike path di KBT sudah selesai 80%. Jika tidak aral melintang, jalur sepeda sepanjang 6,7 km ini akan rampung per akhir 2012 ini.
Setelah KBT, Pemda DKI Jakarta akan melanjutkan pembangunan bike path
hingga ke Marunda. Jalur sepeda ke arah rumah si Pitung ini akan
memiliki panjang kurang lebih 44 km, dimana di sisi utara panjangnya 22
km dan sisi selatan 22 km. Tentu saja, ruas-ruas lain juga akan dibangun
bike path, apalagi jika terdapat lahan di sisi sungai, pasti bisa dibangun bike path, termasuk jalan yang melintasi Sungai Ciliwung, seperti Manggarai, Pasar Baru, maupun Tanah Abang.
Guna menjaga agar bike path tidak dimanfaatkan oleh motor, Dishub DKI Jakarta sudah memasang marka, pembatas beton, bollard, maupun portal. Menurut Udar, setiap hari akan ada lima petugas dari Dishub DKI Jakarta yang berjaga di setiap persimpangan bike path.
Melihat kebijakan Pemda DKI Jakarta yang ramah
terhadap pesepeda, rasanya tak berlebihan jika suatu hari nanti, Jakarta
akan menjadi kota sepeda. Tidak seperti sekarang menjadi kota motor.
Dan jika menjadi kota sepeda, Insya Allah kota Jakarta bisa sejajar
dengan 11 kota di dunia yang berhasil memperoleh predikat kota paling
ramah untuk pesepeda, yakni Amsterdam, Belanda; Portland, Oregon, AS;
Copenhagen, Denmark; Boulder, Colorado, AS; Davis, California, AS;
Sandnes, Norwegia; Trondheim, Norwegia; San Fransisco, California, AS;
Berlin, Jerman; Barcelona, Spanyol; Bassel, Swiss;
Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Virgin-Vacations (www.virgin-vacations.com),
bahwa salah satu upaya memperbaiki kualitas bersepeda di dalam kota
justru berasal dari dua pihak: penduduk dan pemerintah kota. Dalam hal
ini, kebijakan Pemda DKI Jakarta sudah benar. Kebijakan pembangunan bike path ini akan membuat penduduk semakin nyaman menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi.
Namun begitu, ada masalah lain. Pesepeda boleh
senang, tetapi sebaliknya belakangan pelaku industri sepeda nasional
justru mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak
kepada produsen sepeda dalam negeri. Pasalnya, harga produksi dalam
negeri lebih mahal daripada harga impor sepeda utuh. Betapa tidak, bea
masuk impor bahan baku sepeda saat ini 10%-15%, sedangkan bea masuk
impor sepeda 0%-5%.
Selasa, 12 Juni 2012
JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN PENGENDARA MOTOR
“Pejalan kaki memiliki kasta paling rendah karena dianggap paling miskin dan tak memiliki kendaraan”.
Pernyataan Pengamat Perkotaan dan Lingkungan Hidup, Nirwono Yoga yang penulis kutip dari Republika
(2/3/2012) itu, tentu tidak sedang melecehkan pejalan kaki. Namun,
justru ingin mengkritisi Pemerintah Kota (Pemkot) serta pemilik
kendaraan yang memarjinalkan para pejalan kaki.
Buruknya kondisi trotoar di Ibu Kota, menurut
Yoga, karena pola pikir Pemkot dan pemerintah pusat yang tidak
memprioritaskan hak pejalan kaki. Jadi jika dikatakan pedestarian
merupakan infrastruktur kota yang memiliki kasta paling rendah di kota
besar, terutama di Jakarta, itu bukan omong kosong.
Bloggers, salah satu sebab mengapa pejalan kaki
termarjinalkan, karena Pemkot lebih memilih memberdayakan pedagang kaki
lima (PKL) dan juru parkir untuk memanfaatkan trotoar. Jika pejalan kaki
‘menghamburkan uang’, karena Pemkot harus membuat infrastruktur,
sementara PKL dan juru parkir menghasilkan uang bagi kas Pemerintah
Daerah (Pemda). Meski sebetulnya kas Pemda yang saya maksud di sini
masih perlu dipertanyakan kelegalitasannya. Sebab, baik PKL maupun juru
parkir off road, kebanyakan illegal. Tak terdata secara formal sebagai kas negara, tetapi lebih untuk pemasukkan oknum.
Dengan menggunakan pola pikir ekonomi illegal
seperti itu, sampai kapan pun masalah pejalan kaki yang termarjinalkan
ini tidak akan pernah selesai. Ini belum kita bongkar tentang
proyek-proyek penataan area pedestarian yang dilakukan oleh 12 instansi
di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dinas Pertamanan
dan Keamanan (Distamkam) mengurus masalah estetika, seperti bangku,
tempat sampah, dan halte. Lalu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI mengurus
terkait jalan dan utilitas.
“Banyaknya instansi yang memiliki kewenangan di atas trotoar membuat pengamanan dan perawatan terabaikan,” ujar Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna. “Akibatnya,
banyak trotoar yang diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi.
Masalahnya apa lagi kalau bukan soal uang. Mereka (PKL) kan dipungut
retribusi”.
Apa yang dikatakan Yayat memang terbukti.
Fakta di lapangan, banyak halte yang dijadikan warung rokok atau kios
koran. Begitu juga di jembatan penyebrangan. Saat ini jembatan
penyeberangan tidak luput dari PKL. Mereka yang berjalan kaki sudah
tidak nyaman lagi menyeberang, karena setengah area jalan sudah dicaplok
oleh PKL. Sangat mustahil jika aparat dari Pemprov tidak tahu kondisi
tersebut.
“Soal fungsinya beralih, bukan tugas kami,” begitu kata Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan Jakarta Barat, Yusmada Faizal, seolah lepas tangan dari kondisi tersebut.
Sejak dari zaman Gubernur Sutiyoso sampai
Fawzi Bowo (Foke) sekarang, PKL memang makin menjamur tanpa ada
penertiban. Padahal sebetulnya Sutiyoso sudah sempat membuat prototipe
melokalisasikan PKL di satu tempat. Namun entah kenapa di zaman Foke ini
PKL dibiarkan bebas, sehingga mengganggu pejalan kaki.
Giliran di trotoar tidak ada PKL atau parkir
kendaraan, para pejalan kaki belum juga aman. Mereka masih diganggu oleh
para pengendara motor. Jika kebetulan sedang berjalan kaki, saya adalah
orang yang tidak akan pernah memberi jalan motor-motor yang melaju di
trotoar. Kompasianers, jika Anda juga pejalan kaki dan sedang
berjalan di trotoar, saya sarankan JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN
PENGENDARA MOTOR. Anda punya hak untuk berjalan, bukan memberi jalan.
Ketika saya mengendarai motor, Alhamdulillah
saya menahan diri untuk tidak mengambil hak para pejalan kaki dengan
melajukan motor saya di trotoar. Semacet-macetnya jalan, buat saya HARAM
berkendaraan di trotoar. Sebab, bagaimana kita mau mengkritisi orang
lain untuk berdisiplin kalau kita sendiri tidak disiplin? Bagaimana kita
mau berbicara tentang hak kita kalau hak orang lain saja kita
injak-injak? Bagaimana kita membuat orang lain aman jika kebiasaan kita
selalu membuat orang lain tidak aman?
Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Anda yang terbiasa merampok hak pejalan kaki. Alhamdulillah,
saat ini di Kota-Kota besar tumbuh komunitas bernama Koaliasi Pejalan
Kaki (KoPK). Menurut Ketua KoKP, Ahmad Safrudin, koalisi yang terdiri
dari berbagai latarbelakang profesi ini merupakan komunitas yang ingin
memerdekakan hak pejalan kaki dari pengguna pendaraan bermotor.
“Sebuah kota yang beradab bukan terlihat dari gedung-gedung mewah, tetapi dari tingkat kedisiplinan yang terlihat di jalan raya,” ujar Safrudin ketika diinterview oleh Andy Noya di acara Kick Andy.
Beberapa waktu lalu harian Kompas
sempat membuat jejak pendapat terhadap 418 responden di Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi, dan Depok (Jabodetabek) tentang keamanan dan
kenyamanan berjalan di trotoar. Tujuhpuluh koma tiga persen responden
usia 17 tahun ke atas dan sudah menikah ini mengatakan, tidak nyaman
lagi berjalan di trotoar. Begitu banyak PKL dan motor melaju di trotoar.
Lalu tentang faktor keamanan berjalan di trotoar, 70,3% juga mengatakan
tidak aman.
Melihat fakta tersebut, kebijakan terhadap pedesterian sangat urgent!
Namun, menurut Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia
Ellen Tangkudung, perbaikan area pedestarian tidak bisa dilakukan
sepotong-sepotong. Tambah Yayat, harus jelas juga interkoneksinya dan
orientasi pembangunannya.
TAK PERLU SATU ABAD MENJERNIHKAN KALI
Osaka, Jepang, 1962. Sejumlah warga membuang
langsung sampah rumah tangga ke kali. Kondisi kali makin parah dengan
sampah dari industri-industri yang tengah berkembang pesat pada saat
itu. Meski kotor, bau dan menggandung penyakit, namun kali itu tetap
saja dipergunakan warga Osaka untuk segala kebutuhan, baik itu untuk
mencuci, mandi, dan minum.
“Saat musim panas tiba, airnya sangat berbau,” ujar Wali Kota Osaka, Kunio Hiramatsu.
Gambaran tentang kali di Osaka tersebut benar-benar mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pada 8 Juni 2012 lalu, Surabaya Post mengungkapkan air
Kali Surabaya Timur yang mengalir dari Gunungsari-Jagir dianggap
sebagai kali yang paling buruk. Daerah aliran sungai (DAS) yang
melintasi 17 daerah di antaranya Kota Malang, Kabupaten Malang,Kabupaten
Mojokerto,Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang,dan Kediri ini mendapat predikat zona merah.

Tak beda dengan kali di Jakarta. Menurut buku Alam Jakarta: Sebuah Panduan Keanekaragaman Hayati yang Tersisa di Jakarta (Murai Kencana, 2008)yang ditulis oleh Ady Kristanto, air kali di Jakarta telah tercemar Bakteri Escherichia coli (Bakteri E.coli), dengan tingkat pencemaran mencapai 80%. Kondisi ini memprihatinkan dan sangat berbahaya bagi kesehatan warga.
Selama ini banyak anggapan, bahwa industrilah
yang memiliki kontribusi besar mencemari sungai. Ternyata, Sekitar 80%
pencemaran air sungai di Jakarta disebabkan oleh limbah rumah tangga.
Selain kebiasaan membuang sampah sembarangan di kali, pencemaran berasal
dari bahan pencuci yang mengandung fosfar tinggi serta surfaktan.
Jika pencemaran terus berlanjut dan tidak ada
perbaikan kualitas air, perairan akan menjadi anaerob (tidak ada
oksigen). Kondisi ini dapat membuat organisme yang hidupnya bergantung
pada oksigen akan mati. Efek yang lebih parah lagi, terganggunya rantai
makanan yang dapat mengakibatkan kematian bagi organisme lain, baik
langsung maupun tak langsung.
Kembali ke masalah kali di Osaka. Melihat
kali di kota itu kotor, pada 1970-an Pemerintah Kota (Pemkot) mensahkan
Undang-Undang Pengendalian Pencemaran Air untuk mengontrol limbah,
mengawasi pembuangan limbah, dan mengendalikan pembuangan limbah
domestik. Intinya, semua potensi yang mencemarkan air kali, dikontrol
ketat oleh Pemkot Osaka.
Ternyata tidak perlu seabad untuk
menjernihkan air kali. Jika Pemkot serius, bukan tidak mungkin masalah
air kali yang kotor bisa diselesaikan dengan baik. Sang Wali Kota
Hiramatsu bangga memajang gambar air kali di Osaka di situs Asosiasi
Solusi Lingkungan dan Air Kota Osaka (OWESA). Sejak Maret 2000, air
sungai yang dulu cokelat kehitam-hitaman, kini menjadi bersih. Bahkan
Pemkot Osaka membuat sistem pengolahan air sungai, sehingga air tersebut
layak untuk diminum, karena berhasil menghilangkan bau dan rasa tidak
enak pada air. Yang pasti juga tidak terdapat Bakteri E.coli.
Kini kapasitas penyediaan air mencapai 2,43
juta meter kubik per hari. Setidaknya, 97,3 persen warga sudah terlayani
air ledeng dan penyakit yang disebabkan oleh air, hampir nol persen.
Sistem pengolahan air ledeng ini mendapatkan penghargaan standar ISO
22000 pada 2008, yakni standar internasional untuk menajeman keamanan
pangan. Pada 24 Mei 2011, di ajang Monde, air asal Osaka ini mendapat
penghargaan internasional di Brussels, Belgia.
“Sekarang air untuk mencuci, mandi, dan
minum di Osaka sama. Sungai-sungai yang bersih juga memungkinkan
bermacam-macam acara digelar di sepanjang tepi sungai,” ujar Hiramatsu.
Sabtu, 02 Juni 2012
GUDEG: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA # 4
Gudeg telah mendunia. Itulah fakta pada gudeg yang tidak bisa lagi
menganggap remeh. Makanan yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan
santan dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur,
tahu, dan sambal goreng kerecek ini bukan makanan ndeso lagi, tetapi sudah menjadi makanan kaum urban.
Tentu Djuariah (79)
tak menyangka usahanya akan sukses seperti sekarang ini. Wanita yang dikenal
sebagai mbah Djum yang tak lain pemilik warung Gudeg Yu Djum ini hanya
bercita-cita tidak ingin menjadi pencari rumput untuk makanan sapi
selama-lamanya. Namun berkat kegigihannya, usaha gudeg di jalan Wijilan no 31
yang dirintis sejak 1946 maju pesat. Begitu pula warung gudeg di Dusun
Karangasem, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogya. Tak kuran dari 100 sampai
150-an mobil parkir di situ untuk menikmati gudeg Yu Djum, dimana rata-rata
satu mobil membawa 5 penumpang.
Melalui gudeg, cucu-cucu mbah Djum rata-rata telah mengecap
pendidikan tinggi. Begitu pula dengan dinasti bu Lies. Warung gudeg yang
didirikannya sejak 1990-an ini mengantarkan ketiga anaknya menjadi Sarjana.
Namun, Chandra (40), Elina (36), dan Feri (34) lebih memilih meneruskan bisnis
orangtua mereka menjual gudeg, ketimbang bekerja sesuai latar belakang
pendidikan mereka.
“Berikanlah semua yang
terbaik yang bisa kamu berikan pada pelanggan”.
Bloggers, itulah filosofi mbah Djum yang diwariskan pada anak-anaknya. Tak
heran, gudeg jualannya tetap laris hingga ke generasi kedua dan ketiga. Menurut
Haryani, anak mbah Djum, melalui filosofi itu, ibunya telah mempersiapkan
anak-anaknya untuk meneruskan tahta warung gudegnya. Sehingga, selain cita
rasa, anak-anaknya wajib mengikuti kultur yang sudah dilakukan ibunya, yang
membuat warungnya laku.
“Saya ingat betul, ibu
selalu bilang, ‘Apa yang sudah ada di tangan jangan sampai dilepas. Tekuni
saja, pasti berhasil’,” ujar Haryani (Kompas
Minggu, 3/7/2011).
Sejak 1982, tahta pergudegan mbah Djum sudah dipegang oleh
Haryani. Dinasti warung Gudeg Tugu juga diturunkan oleh Trispratoyo pada
Supadmi (57) sejak duapuluh satu tahun lalu. Trispratoyo sendiri mewarisi
bisnis gudeg dari orangtuanya yang sudah puluhan tahun berjualan di jalan AM
Sangaji, tak jauh dari Pasar Kranggan, Yogyakarta. Jadi, Supadmi adalah
generasi ketiga.
“Kami mau meneruskan usaha
ini (gudeg) karena usaha kami laku,”aku Supadmi, yang mewarisi tak cuma
pelanggan dan warung gudeg, tetapi dapur, hingga seluruh peralatan memasak.
Tak beda dengan Supadmi, Maryati (42) adalah generasi ketiga
penjual gudeg. Ia meneruskan usaha gudeg dari mertuanya, Suharti, yang laris di
Pasar Pakem, Sleman. “Ibu (Suharti)
sendiri meneruskan usaha gudeg si mbah,” ungkap Maryati. “Ternyata usaha ini (gudeg) menjanjikan”.
Bloggers, gudeg
memang sudah menjadi usaha yang menjanjikan. Makanan ndeso yang konon ditemukan
oleh Sri Sumantri, seorang istri prajurit Mataram, pada 1557 M ini bukan lagi
sekadar makanan untuk para prajurit yang membangun benteng Mataram, tetapi
sudah bertransformasi menjadi produk ekspor. Jelas fakta ini sangat
membanggakan bagi kita sebagai orang Indonesia.
(tamat)
GUDEG: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA # 3
Gudeg mengalami transformasi. Kesimpulan itu ditulis oleh wartawan Kompas, Budi Suwarna dan Aloysius B. Kurniawan di Kompas Minggu (3 Juli 2011). Dari hasil liputan mereka, gudeg saat ini tak sekadar dianggap kuliner lokal atau nasional, tetapi sudah menjadi makanan kelas dunia.
Gudeg tidak lagi dibukus dengan daun pisang atau box karton, tetapi sudah dikemas dengan kaleng. Layaknya ikan sarden kaleng, gudeg kini dimasukkan ke dalam kaleng, dimana mampu bertahan hingga dua tahun, meski tidak menggunakan bahan pengawet.
Bloggers, begitulah tuntutan zaman. Inovasi yang kini diterapkan oleh sejumlah pengusaha gudeg agar bisa mempu mengekspor makanan khas Yogya itu melintasi batas negara dan benua. Kemasan kelang ini jelas cocok bagi konsumen yang terbiasa dengan gaya hidup praktis dan instan.
Sejak muncul diperkirakan pada 1940-an, gudeg bukan sekadar dinikmati oleh penikmat kuliner lokal maupun nasional, tetapi juga wisatawan asing yang sempat merasakan kelezatan makanan khas Yogya ini. Penjual gudeg pun sudah turun temurun. Maryati (45) misalnya. Wanita ini adalah generasi ketiga pewaris tahta warung gudeg Bu Suharti yang berlokasi di Pasar Pakem, Sleman.
Tak beda dengan mbah Djum (78). Ia adalah generasi kedua yang mewarisi dunia gudeg. Orangtuanya, (alm) Geno Suwito adalah pembuat gudeg terkenal dari Kampung Mbarek. Padahal sebelum menjadi penjual gudeg, mbah Djum yang bernama asli Djuariah ini adalah seorang pencari rumput.
Namun warisan orangtuanya bukanlah bisnis yang sudah eksis. Ada motivasi dan tekad yang kuat dari mbah Djum. Ia tidak ingin menjadi pencari rumput yang cuma memiliki penghasilan pas-pasan. Nasibnya harus bisa berubah. Sementara ‘kendaraan’ yang digunakan untuk merubah nasibnya adalah ilmu per-gudeg-an warisan orangtuanya.
“Setiap hari saya harus bisa mengumpulkan tiga keranjang rumput. Dua keranjang untuk makansapi, satu keranjang untuk dijual dan uangnya ditabung di dalam bambu yang jadi tiang rumah,” tutur mbah Djum mengingat masa lalunya (Kompas, Minggu, 3/7/2011).
Begitu tabungan cukup, mulailah mbah Djum membuka usaha gudeg. Kala itu, sekitar 1950-an, ia harus berjalan kaki menuju jalan Wijilan untuk berdagang gudeg. Orangtuanya yang membuat, ia yang menjual. Setiap malam memasak, pagi jualan. Begitu terus menerus dilakukannya bertahun-tahun.
Bloggers, kini, ketika kita ke Yogya, tak ada yang tak kenal dengan Gudeg Yu Djum yang berada di Kampung Berek, tepat sebelah utara kampus Universitas Gadjah Mada. Begitu pula dengan Gudeg Bu Lies yang berada di Wijilan. Meski sudah dipegang oleh generasi kedua, namun gudeg-gudeg mereka tetap manis dan gurih.
Guna memenuhi kebutuhan pasar, bu Elies membuat inovasi dengan menjual gudeg dalam kemasan kaleng. Sebenarnya inovasi ini pertama kali dirancang oleh Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gunung Kidul, Yogyakarta pada 2008-2009.
Pada 2011, inovasi karya LIPI itu diadopsi beberapa warung gudeg, mulai dari Gudeg Bu Lies, Gudeg Bu Citro, dan Gudeg Bu Joyo. Gudeg kemasan kaleng ini telah berhasil menembus pasar Arab Saudi, Belanda, dan negara-negara Eropa lain. Menurut Agus Susanto, peneliti LIPI Gunung Kidul, setiap hari memproduksi 1.000-1.500 kaleng gudeg. Sementara kemampuan produksi bisa mencapai 8.000-10.000 kaleng per hari. Itu artinya, warung-warung gudeg bisa memanfaatkan kemampuan itu untuk menjual gudeg dalam bentuk kaleng.
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)