Sabtu, 05 September 2015

Jumat, 04 September 2015

Lumayanlah Dapat Bintang Tiga dari Goodreads

Buku saya, Surga di Timur yang diluncurkan pada Mei 2015 ternyata sempat diresensi oleh tim +Goodreads Indonesia. Alhamdulillah dapat tiga bintang.Lumayanlah!

Anda belum baca? Wah, sebaiknya Anda baca. Buku ini berisi catatan perjalanan saya keliling dari satu pulau ke pulau lain di Maluku Tengah. Selain info perjalanan, juga mengungkap sejarah yang ada di Pulau +banda naira, Pulau Saparua, dan pulau-pulau lain.




Bagi yang belum tahu, Goodreads adalah situs terbesar di dunia untuk pembaca dan rekomendasi buku. Misi Goodreads adalah membantu orang menemukan dan berbagi buku yang mereka minati. Situs yang memiliki 40 juta anggota ini sendiri diluncurkan pada Januari 2007.



Mengunjungi "Surga" di Timur


 

Sobat Backpacker! Sungguh saya beruntung bisa melawat ke kepulauan Maluku Tengah. Betapa tidak, di wilayah Timur Indonesia ini, saya menemukan "surga". Ada Banda Neira, Pulau Seram, maupun Pulau Saparua. Catatan perjalanan saya ke lokasi tersebut saya bukukan dalam sebuah buku berjudul "Surga di Timur". Selain membaca buku, tentu Anda pergi ke biro perjalanan semacam +Maluku Travel.

Selamat traveling!

cc +maluku post

Jumat, 28 Agustus 2015

Tulisan Karlsruhe-Jerman di Republika

Kala melancong ke Jerman, salah satu kota yang saya jelajahi adalah Karlsruhe. Nah, tulisan saya mengenai Karlsruhe ini saya kirimkan harian Republika beberapa waktu lalu. Berikut tulisan utuh yang dimuat di Republika Online (ROL), dimana diambil dari tulisan yang sudah diterbitkan di koran.

Selamat membaca!



Minggu, 04 November 2012

Berkunjung ke Rumah Kebun Aquaponic Fadly Padi

Doomsday preppers!

Begitu kata Andy Fadly Arifudin alias Fadly tentang rumah kebunnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Jelas vokalis band Padi ini, konsep rumah dengan kebun aneka tumbuhan ini sengaja ia buat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan akan sayuran organik dan protein hewani.
Kita makan apa yang kita tanam,” ujarnya

Istilah doomsday preppers (DP) atau ‘preppers kiamat’ ini diakuinya, saat ia nonton di National Geographic (Nat Geo), yakni di situs www.gardenpool.org. DP adalah acara reality showdi kanal National Geographic (NatGeo). Konsepnya menggambarkan aktivitas orang-orang yang mempersiapkan diri menghadapi akhir peradaban. Salah satu persiapan adalah memproduksi sendiri kebun berisi tanaman untuk kebutuhan hidup. Sehingga, pada saat musim kelaparan tetap memiliki stok makanan.

Saya pikir (DP) ini sama dgn yang saya bikin. Cuman orang Amerika lebih lengkap. Mereka bersiap untuk kejatuhan Dollar. Saya merasa, kita semua sudah berada di akhir zaman, dimana suatu saat tanaman akan menjadi alat tukar.”

1351074976207649598

Bloggers, terlepas dari fenomena DP, saya beruntung bisa berkunjung ke rumah kebun Fadly Padi siang kemarin. Kebetulan istri saya, Sindhi, yang aktif di #IndonesiaBerkebun mengabarkan pada saya, bahwa komunitas yang bergerak dalam berkebun, ingin melakukan kunjungan ke rumah Fadly. Sudah sejak lama saya ingin melihat rumah kebunnya yang inspiratif ini. Alhamdulillah, impian saya tercapai.

Bloggers, Fadly membangun kebun di atas tanah seluas 386 m2 ini sejak 2012. Di tanah ini, ada bangunanan. Sementara sekitar 150 m2 dipergunakan untuk kebun. Sebelum menjadi kebun, rumah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 1975 sekadar rumah ‘biasa’, sebagaimana rumah-rumah tetangga sebelahnya. Ada bangunan, plus tanah dengan tanaman ala kadarnya.

Ia membeli rumah kebun yang lokasinya di gang persis di seberang lapangan udara Pondok Cabe ini pada 2007. Saat itu, ia ditawari oleh Dika, pemain bas Ada Band, yang tak lain sepupunya. Si pemilik menjual tanah bersertarumah tua seluas kurang lebih 500 m2. Dari luas itu, Fadly dan Dika membagi dua.

Saya mengambil tanah 386 meter persegi, plus bonus rumah tua ini, sementara Dika mengambil sisanya,” jelas suami Dessy Aulia ini.

1351075062268985443

Dua tahun setelah dibeli, barulah Fadly giat menjadikan rumahnya penuh dengan tanaman. Tak kurang dari pak choy, cabe, sereh, pohon salam, jahe merah, binahong, lengkuas, pandan, tomat, basil, timun suri, kacang panjang, dan kemangi. Ada pula buah-buahan, mulai dari alpukat, sirsak, manggis, jambu, pepaya, pisang ambon, dan durian. 

Alhamdulillah, targetnya kebun ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar ayah dari Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan ini.

Bloggers, melihat aneka jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di kebun Fadly ini, jelas sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Betapa tidak, ingin memasak sayur, tinggal ambil di kebun. Untuk lauk-pauk, ia juga memiliki kolam ikan. Jika sebelumnya, ia memelihara ikan lele, ketika saya berkunjung, yang ada di kolam adalah ikan nila.

Di kolam ini lela cuma bertahan 2 bulan. Bukan karena mati, tapi kita makanin terus,” papar mantan vokalis Mr. Q. Band dari Surabaya, yang kini sedang mempersiapkan mengelola ribuan lele di dalam sebuah bekas watertoren ini.

13510751001618039604

Dalam mengelola kebunnya, Fadly cukup kreatif. Ia rajin mengumpulkan barang-barang bekas dan memanfaatkannya menjadi pot. Ada bekas bath tube, gentong air, botol minuman mineral, watertoren, dan barang bekas lain. Selain digunakan untuk pot, ia memanfaatkan botol minuman mineral untuk membungkus bambu-bambu yang menjadi penyangga tanaman di kebun itu.

Bambu ini diplastikan supaya tidak kena rayap,” jelas Fadly, yang mengurus kebunnya ini bersama 2 orang lain. “Rayap nggak mungkin masuk, karena nggak ada celah untuk masuk, karena bambu sudah terbungkus plastik. Kalo kena air, bambu juga nggak cepat lapuk. Soalnya kalo penyangga nggak mau cepat lapuk harus pake kayu jati dan itu jelas mahal.

Tentu untuk mengumpulkan, Fadly harus hunting. Namun, katanya, ia hunting jika mau cari kolam dan growbed untuk Aquaponic. Huntingnya pun dekat rumah. Khusus untuk bamboo, ia mengaku punya teman penjual bambu dan lapak barang bekas, dimana biasa mengantarkan botol minuman mineral bekas dan bambu ke rumah kebunnya.

Selama ini, ia belajar berkebun dengan otodidak, termasuk belajar Aquaponic. Khusus Aquaponic, ia belajar dari YouTube dan berbagai sumber internet. Juga dari buku karya Sylvia Bernstein berjudul Aquaponics gardening.

Bagi Bloggers yang belum tahu, Aquaponics adalah campuran antara budidaya ikan atau peternakan ikan dan hidroponik atau budi daya tanaman dengan menggunakan sedikit tanah dalam sistem tertutup. Dengan naiknya harga bahan bakar dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, Aquaponics bisa menjadi alternatif.

Menurut Sylvia Bernstein, “Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami.”


Sistem Aquaponic ini menarik dan semakin banyak orang di seluruh dunia berkebun Aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun. Di India, Aquaponics dijadikan salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat dalam 10 tahun terakhir ini. Menurut Fadly, sibuknya hanya di awal-awal pada saat membangun system. “Setelah itu tingggal menyemai dan menanam. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyibukkan.”

Selain tidak menyibukkan jika ssstem sudah berjalan, dari segi pendanaan pun relatif murah meriah. Ungkap Fadly, dana yang dibutuhkan untuk perawatan, paling cuma membayar tagihan listrik dan pembelian benih. Selama berkebun dengan Aquaponic ini, tagihan listriknya setiap bulan sekitar Rp. 200.000. Lalu, tenaga kerja cuma datang 2 kali sepekan.

Mereka datang untuk nge-check mesin pompa.

1351075169437398857

Bloggers, tentu saja, selain fokus berkebun dengan Aquaponic-nya, Fadly tetap bergabung dengan rekan-rekannya: Ari (gitar), Yoyo (drum), Rindra (bas), dan Piyu (gitar) di Padi. Maklumlah, ia adalah pendiri band yang didirikan pada 8 April 1997 ini. Belakangan, ia sedang mengerjakan proyek bersama Rindra, Yoyo, dan Stephan Santoso dengan nama Musikimia.

Kita cuma berempat. Anggotanya memang minimalis, tetapi musiknya maksimalis,” jelas Fadly, yang aliran musiknya seperti Soundgarden atau Led Zeppelin. 

Musikimia ini adalah proyek Fadly dan kawan-kawan selama mengisi kekosongan Padi yang sedang vakum. Band ini sendiri dimanajeri oleh Ari, yang tak lain adalah gitaris Padi, selain gitaris utama: Piyu. Di Musikimia, selain menjadi Manajer, Ari juga bertindak sebagai co-Producer dan fokus di belakang layar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album.

Bloggers, sebelum saya dan teman-teman dari #IndonesiaBerkebun pamit pulang, Fadly sempat ditodong nyanyi. Awalnya ia malu-malu. Namun, karena didesak oleh permintaan para ‘ibu-ibu’, Fadly pun menyerah. Ia pun menyanyi sepotong lagu Padi sambil memainkan gitarnya.


Jumat, 12 Oktober 2012

DKI Jakarta Siap Operasikan Bike Path, Jalur Sepeda Paling Aman

ak akan lama lagi para pesepeda di DKI Jakarta akan memiliki bike path. Tak seperti bike line, bike path merupakan jalur khusus sepeda. Tak boleh ada kendaraan lain selain sepeda, termasuk motor, yang diizinkan masuk ke jalur sepeda.

Selama ini, DKI Jakarta hanya memiliki bike line. Di Blok M, Jakarta Selatan misalnya. Ada jalur hijau yang merupakan bike line. Selain Blok M, beberapa lokasi yang sudah punya jalur sepeda adalah adalah Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, Sentul City dan Jababeka. Namun sayangnya bike line ini tidak efektif, karena jalurnya masih menyatu dengan kendaraan umum lain. Motor seringkali menyerobot masuk ke bike line. Pun mobil seenaknya parkir di jalur yang sebenarnya khusus untuk sepeda itu. Metromini atau angkot berhenti seenaknya menghalangi jalur sepeda. Oleh karena itu, pembangunan bike path sangat dinantikan pesepeda.

Menurut rencana, bike path akan dioperasikan ruas-ruas menuju jalan protokol di Jakarta. Namun, untuk periode pertama, bike path baru dilakukan di Kanal Banjir Timur (KBT).  Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Udar Pristono, saat ini bike path di KBT sudah selesai 80%. Jika tidak aral melintang, jalur sepeda sepanjang 6,7 km ini akan rampung per akhir 2012 ini.

Setelah KBT, Pemda DKI Jakarta akan melanjutkan pembangunan bike path hingga ke Marunda. Jalur sepeda ke arah rumah si Pitung ini akan memiliki panjang kurang lebih 44 km, dimana di sisi utara panjangnya 22 km dan sisi selatan 22 km. Tentu saja, ruas-ruas lain juga akan dibangun bike path, apalagi jika terdapat lahan di sisi sungai, pasti bisa dibangun bike path, termasuk jalan yang melintasi Sungai Ciliwung, seperti Manggarai, Pasar Baru, maupun Tanah Abang.

Guna menjaga agar bike path tidak dimanfaatkan oleh motor, Dishub DKI Jakarta sudah memasang marka, pembatas beton, bollard, maupun portal. Menurut Udar, setiap hari akan ada lima petugas dari Dishub DKI Jakarta yang berjaga di setiap persimpangan bike path.

Melihat kebijakan Pemda DKI Jakarta yang ramah terhadap pesepeda, rasanya tak berlebihan jika suatu hari nanti, Jakarta akan menjadi kota sepeda. Tidak seperti sekarang menjadi kota motor. Dan jika menjadi kota sepeda, Insya Allah kota Jakarta bisa sejajar dengan 11 kota di dunia yang berhasil memperoleh predikat kota paling ramah untuk pesepeda, yakni Amsterdam, Belanda; Portland, Oregon, AS; Copenhagen, Denmark; Boulder, Colorado, AS; Davis, California, AS; Sandnes, Norwegia; Trondheim, Norwegia; San Fransisco, California, AS; Berlin, Jerman; Barcelona, Spanyol; Bassel, Swiss;

Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Virgin-Vacations (www.virgin-vacations.com), bahwa salah satu upaya memperbaiki kualitas bersepeda di dalam kota justru berasal dari dua pihak: penduduk dan pemerintah kota. Dalam hal ini, kebijakan Pemda DKI Jakarta sudah benar. Kebijakan pembangunan bike path ini akan membuat penduduk semakin nyaman menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi.
Namun begitu, ada masalah lain. Pesepeda boleh senang, tetapi sebaliknya belakangan pelaku industri sepeda nasional justru mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada produsen sepeda dalam negeri. Pasalnya, harga produksi dalam negeri lebih mahal daripada harga impor sepeda utuh. Betapa tidak, bea masuk impor bahan baku sepeda saat ini 10%-15%, sedangkan bea masuk impor sepeda 0%-5%.

Selasa, 12 Juni 2012

JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN PENGENDARA MOTOR

Pejalan kaki memiliki kasta paling rendah karena dianggap paling miskin dan tak memiliki kendaraan”.

Pernyataan Pengamat Perkotaan dan Lingkungan Hidup, Nirwono Yoga yang penulis kutip dari Republika (2/3/2012) itu, tentu tidak sedang melecehkan pejalan kaki. Namun, justru ingin mengkritisi Pemerintah Kota (Pemkot) serta pemilik kendaraan yang memarjinalkan para pejalan kaki.

Buruknya kondisi trotoar di Ibu Kota, menurut Yoga, karena pola pikir Pemkot dan pemerintah pusat yang tidak memprioritaskan hak pejalan kaki. Jadi jika dikatakan pedestarian merupakan infrastruktur kota yang memiliki kasta paling rendah di kota besar, terutama di Jakarta, itu bukan omong kosong.

Bloggers, salah satu sebab mengapa pejalan kaki termarjinalkan, karena Pemkot lebih memilih memberdayakan pedagang kaki lima (PKL) dan juru parkir untuk memanfaatkan trotoar. Jika pejalan kaki ‘menghamburkan uang’, karena Pemkot harus membuat infrastruktur, sementara PKL dan juru parkir menghasilkan uang bagi kas Pemerintah Daerah (Pemda). Meski sebetulnya kas Pemda yang saya maksud di sini masih perlu dipertanyakan kelegalitasannya. Sebab, baik PKL maupun juru parkir off road, kebanyakan illegal. Tak terdata secara formal sebagai kas negara, tetapi lebih untuk pemasukkan oknum.


Dengan menggunakan pola pikir ekonomi illegal seperti itu, sampai kapan pun masalah pejalan kaki yang termarjinalkan ini tidak akan pernah selesai. Ini belum kita bongkar tentang proyek-proyek penataan area pedestarian yang dilakukan oleh 12 instansi di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dinas Pertamanan dan Keamanan (Distamkam) mengurus masalah estetika, seperti bangku, tempat sampah, dan halte. Lalu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI mengurus terkait jalan dan utilitas. 

Banyaknya instansi yang memiliki kewenangan di atas trotoar membuat pengamanan dan perawatan terabaikan,” ujar Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna. “Akibatnya, banyak trotoar yang diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi. Masalahnya apa lagi kalau bukan soal uang. Mereka (PKL) kan dipungut retribusi”. 

Apa yang dikatakan Yayat memang terbukti. Fakta di lapangan, banyak halte yang dijadikan warung rokok atau kios koran. Begitu juga di jembatan penyebrangan. Saat ini jembatan penyeberangan tidak luput dari PKL. Mereka yang berjalan kaki sudah tidak nyaman lagi menyeberang, karena setengah area jalan sudah dicaplok oleh PKL. Sangat mustahil jika aparat dari Pemprov tidak tahu kondisi tersebut. 

Soal fungsinya beralih, bukan tugas kami,” begitu kata Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan Jakarta Barat, Yusmada Faizal, seolah lepas tangan dari kondisi tersebut.

Sejak dari zaman Gubernur Sutiyoso sampai Fawzi Bowo (Foke) sekarang, PKL memang makin menjamur tanpa ada penertiban. Padahal sebetulnya Sutiyoso sudah sempat membuat prototipe melokalisasikan PKL di satu tempat. Namun entah kenapa di zaman Foke ini PKL dibiarkan bebas, sehingga mengganggu pejalan kaki.


Giliran di trotoar tidak ada PKL atau parkir kendaraan, para pejalan kaki belum juga aman. Mereka masih diganggu oleh para pengendara motor. Jika kebetulan sedang berjalan kaki, saya adalah orang yang tidak akan pernah memberi jalan motor-motor yang melaju di trotoar. Kompasianers, jika Anda juga pejalan kaki dan sedang berjalan di trotoar, saya sarankan JANGAN PERNAH MAU MENGALAH DENGAN PENGENDARA MOTOR. Anda punya hak untuk berjalan, bukan memberi jalan.

Ketika saya mengendarai motor, Alhamdulillah saya menahan diri untuk tidak mengambil hak para pejalan kaki dengan melajukan motor saya di trotoar. Semacet-macetnya jalan, buat saya HARAM berkendaraan di trotoar. Sebab, bagaimana kita mau mengkritisi orang lain untuk berdisiplin kalau kita sendiri tidak disiplin? Bagaimana kita mau berbicara tentang hak kita kalau hak orang lain saja kita injak-injak? Bagaimana kita membuat orang lain aman jika kebiasaan kita selalu membuat orang lain tidak aman?

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Anda yang terbiasa merampok hak pejalan kaki. Alhamdulillah, saat ini di Kota-Kota besar tumbuh komunitas bernama Koaliasi Pejalan Kaki (KoPK). Menurut Ketua KoKP, Ahmad Safrudin, koalisi yang terdiri dari berbagai latarbelakang profesi ini merupakan komunitas yang ingin memerdekakan hak pejalan kaki dari pengguna pendaraan bermotor.

Sebuah kota yang beradab bukan terlihat dari gedung-gedung mewah, tetapi dari tingkat kedisiplinan yang terlihat di jalan raya,” ujar Safrudin ketika diinterview oleh Andy Noya di acara Kick Andy.


Beberapa waktu lalu harian Kompas sempat membuat jejak pendapat terhadap 418 responden di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok (Jabodetabek) tentang keamanan dan kenyamanan berjalan di trotoar. Tujuhpuluh koma tiga persen responden  usia 17 tahun ke atas dan sudah menikah ini mengatakan, tidak nyaman lagi berjalan di trotoar. Begitu banyak PKL dan motor melaju di trotoar. Lalu tentang faktor keamanan berjalan di trotoar, 70,3% juga mengatakan tidak aman.

Melihat fakta tersebut, kebijakan terhadap pedesterian sangat urgent! Namun, menurut Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia Ellen Tangkudung, perbaikan area pedestarian tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Tambah Yayat, harus jelas juga interkoneksinya dan orientasi pembangunannya.

Apakah menuju halte ke tempat kerja, rumah, ataupun stasiun bus”.