Sabtu, 05 September 2015

PANTAI SERANG, MBAH MOEDJAIR, DAN IKAN IKAN MUJAIR



Hi sobat backpacker! Apa kabar? Saya ucapkan kabar Anda sebuah luar biasa ya. Seperti biasa, saya sebagai anggota Backpacker KW 2 ingin menginfokan hal-hal yang berhubungan dengan objek wisata, keindahan alam, gaya hidup hijau, dan sebangsanya. Kali ini Pantai Serang dan ikan mujair.

Anda pasti bingung dengan dongeng saya kali ini ya? Apa hubungannya ikan Pantai dengan ikan mujair? Bukankah pantai itu airnya asin, sementara ikan mujair hidupnya di air tawar? Trus dimana pula Pantai Serang itu?

Sobat backpacker, Pantai Serang itu letaknya bukan di Serang, Banten. Mentang-mentang di Banten ada Seran, Anda menuduh pantai ini letaknya di Banten. Salah! Pantai Serang itu terletak di desa Serang, kecamatan Panggungrejo. Jaraknya kurang lebih 45 km arah barat daya kota Blitar.

Pantai Serang yang terletak di pesisir Samudra Hindia ini biasa dipakai untuk ritual tradisional Larung Saji. Upacara ini dilakukan pada tanggal 1 Suro. Sebenarnya yang dipakai untuk Larung Saji bukan cuma Pantai Serang aja, tetapi ada dua pantai lain. Tapi sengaja dongeng saya kali ini mengenai Pantai Serang yang punya hamparan pasir putih yang landai dengan ombak yang tidak begitu deras.

Kenapa sih Pantai Serang begitu spesial buat saya sebagai Backpacker KW#2?

Jadi, di Pantai Serang inilah ditemukan pertama kali ikan yang kelak bernama ikan mujair. Adalah Mbah Moedjair yang menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya di pantai tersebut. Peristiwa itu terjadi kala pria yang punya nama asli Iwan Muluk melakukan tirakat di Pantai Serang setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa.



Ikan yang ditemukan si Mbah kelahiran desa Kuningan pada 1890 ini sangat unik. Betapa tidak menarik perhatian si Mbak dan dikatakan unik, ikan ini menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Ayah 7 anak yang dikenal sebagai pemilik warung sate ini membawa beberapa ekor ikan baru tersebut untuk dipelihara di rumahnya.

Saat di rumah, Mbak Moedjair melakukan riset kecil-kecilan. Ia akhirnya berhasil pada percobaan ke-11 dengan 4 ekor ikan. Berita soal spesies ikan air tawar yang dilakukan si Mbah menarik perhatian penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda yang berkedudukan di Kediri. Sebagai bentuk penghargaan atas usaha si Mbak, sang penguasa Hindia Belanda ini memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu Moedjair atau diindonesiakan menjadi Mujair.

Nah, sobat backpacker, kalo Anda kebetulan traveling ke Blitar, silahkan mampir ke Pantai Serang, tempat ditemukan ikan Mujair itu. Dan sempatkan melihat makam Mbak Moedjair yang ada di Blitar juga. Di makam si Mbak ini, selain tertulis tanggal wafat pada 7 September 1957, ada tulisan “MOEDJAIR, PENEMU IKAN MOEDJAIR” lengkap dengan ukiran ikan mujair.



OBJEK WISATA PARAKANSALAK, SUKABUMI, JAWA BARAT

Halo Sobat Backpacker! Kembali lagi dengan saya, sang Backpacker KW #2...

Bulan ini saya belum punya rencana traveling. Tugas menumpuk membuat saya harus tahu diri nggak nekad ngambil cuti. Namun, di antara pekerjaan tersebut, saya masih diberikan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Esa buat jalan-jalan keluar Jakarta. Meski nggak backpacker-an, tetapi saya menikmati pekerjaan yang kebetulan "mamaksa" saya ke luar kota.

Sukabumi. Yup! Salah satu kota di Jawa Barat ini menjadi lokasi saya buat jalan-jalan, eh, salah...bekerja maksudnya. Kebetulan ada pekerjaan yang mengharuskan saya pergi ke Sukabumi, tepatnya di Kecamatan Parakansalak. Saya yakin di antara Anda banyak yang sudah mengenal Parakansalak. Bagi yang sudah kenal, kayaknya nggak perlu baca dongeng saya di bawah ini deh. Tapi kalo memang tetap ngotot mau baca, ya terserah aja sih. Sebaliknya, khusus bagi Anda yang belum tahu Parakansalak, Anda wajib baca dongeng saya sampai tuntas tas...



Parakansalak sebetulnya sebuah daerah yang sudah ngetop sejak zaman Hindia Belanda. Betapa tidak, di lokasi ini, terbentang perkebunan teh peninggalan Belanda. Bahkan sebelum merek-merek teh yang beredar sekarang ini, ada teh bermerek Parakansalak yang sangat kondang. Kini, perkebunan teh dikelola oleh PTPN.

Parakansalak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Di lokasi ini, terdapat objek wisata yang cukup terkenal, yakni Situ Sukarame. Seperti juga perkebunan teh, Situ Sukarame ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa Hindia Belanda.

Menurut sejarah, kecamatan Parakansalak ini terbentuk setelah adanya perpindahan pusat pemerintahan dan ibu kota kabupaten Sukabumi ke Pelabuhan Ratu. Luas wilayah Parakansalak sendiri kurang lebih 5.669,68 hektar. Dengan luas segitu, terdapat 6 desar, yakni Desa Parakansalak yang memiliki jumlah penduduk 7.488 jiwa; Desa Lebaksari (6.134 jiwa); Desa Sukakersa (6.666 jiwa); Desa Sukatani (5.909 jiwa); Desa Bojongasih (6.106 jiwa); dan Desa Bojonglogok (6.913 jiwa).

Untuk menuju ke Kecamatan Parakansalak, Anda harus pergi ke arah Sukabumi kota dulu. Begitu ada papan petunjuk Parung Kuda, Anda belok kanan dan melintasi stasiun kereta api Parung Kuda. Dari stasiuin tersebut, tinggal lurus terus mengikuti jalan. Selama jalan, pesan saya JANGAN TIDUR! Sebab, Anda akan menyesal tidak melihat pemandangan yang asri di kiri dan kanan jalan. Selain persawahan, Anda juga akan menjumpai perkebunan teh dan aneka tanaman yang tumbuh di ladang. Tak ketinggalan panorama perbukitan yang menakjubkan. Dari stasiun Parung Kuda sampai ke Kecamatan Parakansalak kurang lebih 15 sampai 20 menit.

Selain panorama alam yang masih asri, di Parakansalak Anda bisa mengunjungi sebuah danau yang disebut Situ Sukarame. Bagi orang Sunda, Situ berarti 'Danau'. Pada 1980-an, Pemda setempat menjadikan situ ini sebagai taman wisata air. Para pelancong bisa memanfaatkan fasilitas sepeda air atau perahu yang ada di pinggir danau. Namun, pelancong dilarang keras untuk berenang di danau tersebut. Setidaknya larangan ini dikeluarkan paska terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa dua korban di Situ Sukarame ini pada Agustus 2013 lalu.




Sejarah Situ Sukarame

Menurut Wikepedia, Situ Sukarame adalah tempat bertemunya 7 sungai, yakni sungai Cikahuripan, sungai Cisalada, sungai Citaman, sungai Cisarandi, sungai Cimaci, sungai Cipangelah, dan sungai Cisela. Kala itu  Belanda punya ambisi untuk membendung ke-7 sungai tersebut untuk dijadikan telaga untuk berlayar. Sukarame sendiri merupakan nama sebuah kampung yang ada di dekat danau tersebut.

Pada awalnya wilayah di sekitar danau hanya berupa hutan belantara tanpa penduduk. Adalah Ama Sadarina, orang pertama yang menempati daerah ini. Ia tak lain adalah seorang pimpinan tentara Kerajaan Mataram. Kehadiran Ama di Sukarame ini, lantaran ingin bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Sejak kedatangan Amma Sadarina, tempat tersebut mulai ramai. Sebab, Ama membuka perguruan ilmu Kadigjayaan. Oleh karena ramai, maka kampung tersebut diberinama Sukarame.

(bersambung)

+SUKABUMI NEWS +Sukabumi Pos



 

    

Menjadi Finalis Naskah Traveling Terbaik 2015 Penerbit BitRead

Bangga! Barangkali kata itu yang tepat saya ungkapkan begitu tahu, bahwa karya saya terpilih menjadi salah satu dari 10 finalis naskah traveling #TerbitkanBukumu. Menurut pihak penyelenggara, yakni penerbit BitRead, sebelum dipilih 10 naskah terbaik, ada ratusan naskah yang masuk. Alhamdulillah, naskah saya berjudul Tour of Baduy Dalam terpilih.




Selain saya, sembilan teman saya lain yang berhasil masuk sebagai finalis naskah #TerbitkanBukumu adalah:

1. Wilda Hikmalia - Aku, Mereka, dan Ranah Jawa
2. Arini Tathagati - 10 Wisata Pusaka Nusantara
3. Rahmi Gustiah Putri - First Vacation
4. Galuh Diajeng Wulandari - Love Traveler
5. Rani Rahmawati - Cia-Cia sebuah kampung berbahasa unik
6. Christian Evan chandra - Ayo Jelajah Indonesia
7. Arif Rahman Nugraha - Cerita Dari Pelosok Negeri
8. Florentina Woro - Indonesia A-Z
9. Nur Baiti - Catatan Perjalanan Bolang Amatir



Jumat, 04 September 2015

Lumayanlah Dapat Bintang Tiga dari Goodreads

Buku saya, Surga di Timur yang diluncurkan pada Mei 2015 ternyata sempat diresensi oleh tim +Goodreads Indonesia. Alhamdulillah dapat tiga bintang.Lumayanlah!

Anda belum baca? Wah, sebaiknya Anda baca. Buku ini berisi catatan perjalanan saya keliling dari satu pulau ke pulau lain di Maluku Tengah. Selain info perjalanan, juga mengungkap sejarah yang ada di Pulau +banda naira, Pulau Saparua, dan pulau-pulau lain.




Bagi yang belum tahu, Goodreads adalah situs terbesar di dunia untuk pembaca dan rekomendasi buku. Misi Goodreads adalah membantu orang menemukan dan berbagi buku yang mereka minati. Situs yang memiliki 40 juta anggota ini sendiri diluncurkan pada Januari 2007.



Mengunjungi "Surga" di Timur


 

Sobat Backpacker! Sungguh saya beruntung bisa melawat ke kepulauan Maluku Tengah. Betapa tidak, di wilayah Timur Indonesia ini, saya menemukan "surga". Ada Banda Neira, Pulau Seram, maupun Pulau Saparua. Catatan perjalanan saya ke lokasi tersebut saya bukukan dalam sebuah buku berjudul "Surga di Timur". Selain membaca buku, tentu Anda pergi ke biro perjalanan semacam +Maluku Travel.

Selamat traveling!

cc +maluku post

Jumat, 28 Agustus 2015

Tulisan Karlsruhe-Jerman di Republika

Kala melancong ke Jerman, salah satu kota yang saya jelajahi adalah Karlsruhe. Nah, tulisan saya mengenai Karlsruhe ini saya kirimkan harian Republika beberapa waktu lalu. Berikut tulisan utuh yang dimuat di Republika Online (ROL), dimana diambil dari tulisan yang sudah diterbitkan di koran.

Selamat membaca!