Sobat,
ternyata PON XVIII Riau membawa kisah menarik yang nggak pernah
dilupakan. Saya nggak mau ngobrolin soal olahraga, atlet, atau prestasi
olahraga. Yang saya mau kisahkan kejadian-kejadian yang "menggegerkan"
yang ending-nya menjerat seorang Kepala Pemerintah dalam sebuah skandal
korupsi. Trus apa hubungannya dengan blog Backpacker KW #2 yang seharusnya menginfokan soal objek-objek yang bisa dikunjungi di Riau?
Gini, sobat. Saat saya melakukan city tour, tiba-tiba driver mobil carteran saya ngasih tahu sebuah tugu. Awalnya saya nggak tertarik dengan tugu tersebut, makanya saya cuek bebek. Namun, begitu mobil kami melewati sebuah tugu dan driver mengatakan...
"Itu tugu 1 miliar, pak, yang tempo hari heboh itu," ujar sang Driver sambil menunjuk tugu tersebut.
"Hah?! Tugu 1 miliar?" tanya saya histeris, eh nggak ding, cuma heran gitu.
"Iya, pak..."
Itulah
"Tugu 1 Miliar". Sebenarnya nama aslinya bukan itu, tapi Tugu Countdown
PON XVIII. Penamaan "Tugu 1 Miliar" ini dari para demonstran terhadap
Gubernur Riau Rusli Zainal yang membangun tugu ini dengan biaya 1
Miliar. Gara-gara pembangunan tugu yang didirikan saat berlangsung PON
XVIII Riau ini, Gubernur pun kena kasus dan di-KPK-kan.
Coba tebak, kira-kira berapa perak dana yang sebetulnya bisa untuk membangun tugu ini?
"...dibilang backpacker bisa,nggak dianggap ya bisa juga..." "...dibilang suka makan, ya begitu, dituduh tahu kuliner nggak juga..."
Senin, 16 Mei 2016
Sabtu, 14 Mei 2016
MENGUNJUNGI ANJUNGAN SENI IDRUS TINTIN
Begitu dapat mobil rental, saya dan teman saya langsung minta diantar menuju ke Duri. Namun, sambil menuju ke Duri, saya minta diajak city tour ke beberapa objek wisata di Pekanbaru ini.
Rute pertama ke Anjungan Seni Idrus Tintin. Adalah sebuah bangunan yang terletak di jalan Jenderal Sudirman. Nggak jauh dari Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bangunan ini terletak di Arena Purna MTQ atau sekarang bernama Bandar Serai. Warga Pekanbaru sendiri mengenal lokasi ini dengan sebutan MTQ. Ya, mungkin karena bekas dipakai MTQ dan agar penyebutan lokasi lebih singkat-padat.
Bangunan ini berarsitektur budaya Melayu. Sebagai tempat pertunjukan seni pertunjukan, bangunan ini cukup megah. Barangkali setara dengan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) atau Teater Jakarta di TIM. Selain di area Anjungan Seni Idrus Tintin ini pernah dipakai MTQ, bangunan ini pernah digunakan buat menggelar Festival Film Indonesia (FFI) pada 2008.
Rute pertama ke Anjungan Seni Idrus Tintin. Adalah sebuah bangunan yang terletak di jalan Jenderal Sudirman. Nggak jauh dari Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bangunan ini terletak di Arena Purna MTQ atau sekarang bernama Bandar Serai. Warga Pekanbaru sendiri mengenal lokasi ini dengan sebutan MTQ. Ya, mungkin karena bekas dipakai MTQ dan agar penyebutan lokasi lebih singkat-padat.
Bangunan ini berarsitektur budaya Melayu. Sebagai tempat pertunjukan seni pertunjukan, bangunan ini cukup megah. Barangkali setara dengan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) atau Teater Jakarta di TIM. Selain di area Anjungan Seni Idrus Tintin ini pernah dipakai MTQ, bangunan ini pernah digunakan buat menggelar Festival Film Indonesia (FFI) pada 2008.
By the busway, siapa sih Idrus Tintin itu? Awalnya saya juga nggak tahu. Tapi begitu cari di Mbah Gugling, saya baru tahu. Idrus Tintin adalah seorang seniman Melayu Riau asal Rengat, Indragiri Hulu. Sejak remaja, ia sudah menggeluti dunia seni. Ia dikenal sebagai pembaca puisi yang jago. Bukan cuma jago baca puisi, tetapi beliau juga nulis puisi dan naskah drama. Gara-gara sepak terjang dan pembaru di bidang seni teater Melayu, khususnya Riau, ia sempat mendapatkan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2011. Nggak berlebihan kalo namanya diabadikan sebagai nama gedung yang berada di jalan Jendral Sudirman ini.
KEJAR-KEJARAN DENGAN BUS DAMRI
Sobat, selama ini saya mendengar Pekanbaru sebagai salah satu kota bisnis. Julukan sebagai kota bisnia boleh jadi, karena di ibu kota Provinsi Riau ini, ada kurang lebih 170 perkebunan sawit. Sawit-sawit ini diekspor produk mentah dan olahannya. Nah, bertepatan dengan akhir pekan ini, saya menjelajahi Pekanbaru.
Barangkali ada pembaca warga Pekanbaru, atau sering ke Pekanbaru, atau pernah ke Pekanbaru. Tulisan saya ini nggak ditujukan kepada Anda. Sebab, bisa jadi Anda bosan atau nggak butuh lagi info-info catatan perjalanan saya ini. Makanya, tulisan saya ini KHUSUS buat mereka yang belum pernah ke Pekanbaru. Ya, siapa tahu bisa jadi bacaan favorit sebelum tidur *ngaco*
Baiklah sobat, cerita perjalanan saya episode # 1 ini diawali dari perjalanan saya menuju bandara Soekarno-Hatta dulu kali ya. Kebetulan saya dapat tiket +Citilink pukul 05:30 WIB. Supaya nggak telat ke airport, saya pasang weker jam 03:30 WIB. Alhamdulillah, weker berbunyi dengan sempurna, mengalahkan ayam berkokok. Ups! Jangan-jangan gara-gara weker saya, ayam jadi terbangun dan tiba-tiba berkokok kali ya...:))
Alhamdulillah, istri saya baik budi. Ia mau mengantarkan saya ke.... terminal. Kasihan juga kalo pagi-pagi harus nganterin ke bandara. Makanya saya cukup minta istri buat nganter sampai terminal Damri di Terminal Rawamangun.
"Kalo ada Damri lewat, kita nggak perlu ke terminal, kita kejar Damri itu," ujar saya pada istri, saat mobil kami berhenti di lampu merah.
Rupanya Tuhan mengabulkan doa saya. Damri melipir lewat. Bak pembalap KW 4, saya membanting stir buat mengejar Damri. Saya berusaha menyusul, tetapi kecepatan Damri ternyata jauh melebihi kecepatan mobil saya. Di jalan yang saya hendak kejar Damri, ada beberapa lampu lalu lintas. Saya berharap sekali lampu lalu lintas menolong saya, yakni dengan memperlihatkan warna merah. Dengan mengganti warna dari hijau ke merah, Damri pasti akan berhenti dan saya bisa keluar dari mobil untuk segera masuk Damri. Namun, sayang seribu kali sayang, doa saya kali ini nggak terkabul. Lampu lalu lintas hijau terus. Damri pun terus melaju.
Dalam pengejaran, saya sempat melambaikan tangan dari samping Damri. Bukan melambaikan tangan buat ngucap "selamat jalan" para penumpang Damri atau ngucap "hati-hati di jalan" ya pak sopir Damri. Dengan melambaikan tangan, saya berharap pak sopir menghentikan laju Damri. Eh, ternyata nggak berhenti, bo!
Ternyata bukan saya yang melambaikan tangan, ada sosok tangan muncul dari dalam taksi biru. Nampaknya tangan tersebut juga mengharapkan Damri berhenti. Eh, ternyata nggak berhenti juga, euy. Oleh karena dicuekin oleh sopir Damri, sopir taksi mempercepat laju taksi meninggalkan Damri. Seru pokoknya aksi kejar-kejaran mobil kami dan sopir taksi. Akhir dari kejar-kejaran, Damri berhenti tepat sebelum pintu tol.
Seorang perempuan masuk ke dalam Damri. Setelah say goodbye dengan my wife, saya juga masuk ke Damri. Di dalam bus, saat kondektur menagih uang tiket, perempuan yang tadi melambai-lambaikan tangan nampak protes ke kondektur. Belum cukup menumpahkan kekesalan pada kondektur, si perempuan maju ke depan bangku sopir dan nampak marah-marah. Saya melihat ekspresi si perempuan, walau nggak dengar apa isi makian dari si perempuan. Si sopir kemudian memanggil kondektur. Lagi-lagi saya nggak tahu apa maksud si sopir memanggil kondektur.
"Sombong banget jadi sopir," gumam si perempuan sambil berjalan dari tempat sopir ke tempat duduknya.
Ah, rupanya si sopir merasa apa yang dia lakukan, benar. Ia nggak terima dengan protes yang diajukan si perempuan. Makanya sopir minta kondektur untuk mengembalikan uang tiket, sehingga si perempuan bisa turun dan mencari Damri lain. Coba, perempuan mana yang nggak kesal diperlakukan kayak gitu? Oleh seorang sopir pula. Untunglah, saya nggak melakukan aksi protes sebagaimana perempuan itu. Ngapain juga pagi-pagi nyari ribut, ya nggak? Lagipula saya merasa bersalah dengan tindakan saya, coba memberhentikan Damri di tengah jalan.
Alhamdulillah, sampai di bandara Soetta nggak telat. Saya masih bisa sholat subuh berjamaah di Soetta. Pesawat +Citilink pun on time berangkat menuju ke bandara Pekanbaru.
(bersambung)
Barangkali ada pembaca warga Pekanbaru, atau sering ke Pekanbaru, atau pernah ke Pekanbaru. Tulisan saya ini nggak ditujukan kepada Anda. Sebab, bisa jadi Anda bosan atau nggak butuh lagi info-info catatan perjalanan saya ini. Makanya, tulisan saya ini KHUSUS buat mereka yang belum pernah ke Pekanbaru. Ya, siapa tahu bisa jadi bacaan favorit sebelum tidur *ngaco*
Baiklah sobat, cerita perjalanan saya episode # 1 ini diawali dari perjalanan saya menuju bandara Soekarno-Hatta dulu kali ya. Kebetulan saya dapat tiket +Citilink pukul 05:30 WIB. Supaya nggak telat ke airport, saya pasang weker jam 03:30 WIB. Alhamdulillah, weker berbunyi dengan sempurna, mengalahkan ayam berkokok. Ups! Jangan-jangan gara-gara weker saya, ayam jadi terbangun dan tiba-tiba berkokok kali ya...:))
Alhamdulillah, istri saya baik budi. Ia mau mengantarkan saya ke.... terminal. Kasihan juga kalo pagi-pagi harus nganterin ke bandara. Makanya saya cukup minta istri buat nganter sampai terminal Damri di Terminal Rawamangun.
"Kalo ada Damri lewat, kita nggak perlu ke terminal, kita kejar Damri itu," ujar saya pada istri, saat mobil kami berhenti di lampu merah.
Rupanya Tuhan mengabulkan doa saya. Damri melipir lewat. Bak pembalap KW 4, saya membanting stir buat mengejar Damri. Saya berusaha menyusul, tetapi kecepatan Damri ternyata jauh melebihi kecepatan mobil saya. Di jalan yang saya hendak kejar Damri, ada beberapa lampu lalu lintas. Saya berharap sekali lampu lalu lintas menolong saya, yakni dengan memperlihatkan warna merah. Dengan mengganti warna dari hijau ke merah, Damri pasti akan berhenti dan saya bisa keluar dari mobil untuk segera masuk Damri. Namun, sayang seribu kali sayang, doa saya kali ini nggak terkabul. Lampu lalu lintas hijau terus. Damri pun terus melaju.
Dalam pengejaran, saya sempat melambaikan tangan dari samping Damri. Bukan melambaikan tangan buat ngucap "selamat jalan" para penumpang Damri atau ngucap "hati-hati di jalan" ya pak sopir Damri. Dengan melambaikan tangan, saya berharap pak sopir menghentikan laju Damri. Eh, ternyata nggak berhenti, bo!
Ternyata bukan saya yang melambaikan tangan, ada sosok tangan muncul dari dalam taksi biru. Nampaknya tangan tersebut juga mengharapkan Damri berhenti. Eh, ternyata nggak berhenti juga, euy. Oleh karena dicuekin oleh sopir Damri, sopir taksi mempercepat laju taksi meninggalkan Damri. Seru pokoknya aksi kejar-kejaran mobil kami dan sopir taksi. Akhir dari kejar-kejaran, Damri berhenti tepat sebelum pintu tol.
Seorang perempuan masuk ke dalam Damri. Setelah say goodbye dengan my wife, saya juga masuk ke Damri. Di dalam bus, saat kondektur menagih uang tiket, perempuan yang tadi melambai-lambaikan tangan nampak protes ke kondektur. Belum cukup menumpahkan kekesalan pada kondektur, si perempuan maju ke depan bangku sopir dan nampak marah-marah. Saya melihat ekspresi si perempuan, walau nggak dengar apa isi makian dari si perempuan. Si sopir kemudian memanggil kondektur. Lagi-lagi saya nggak tahu apa maksud si sopir memanggil kondektur.
"Sombong banget jadi sopir," gumam si perempuan sambil berjalan dari tempat sopir ke tempat duduknya.
Ah, rupanya si sopir merasa apa yang dia lakukan, benar. Ia nggak terima dengan protes yang diajukan si perempuan. Makanya sopir minta kondektur untuk mengembalikan uang tiket, sehingga si perempuan bisa turun dan mencari Damri lain. Coba, perempuan mana yang nggak kesal diperlakukan kayak gitu? Oleh seorang sopir pula. Untunglah, saya nggak melakukan aksi protes sebagaimana perempuan itu. Ngapain juga pagi-pagi nyari ribut, ya nggak? Lagipula saya merasa bersalah dengan tindakan saya, coba memberhentikan Damri di tengah jalan.
Alhamdulillah, sampai di bandara Soetta nggak telat. Saya masih bisa sholat subuh berjamaah di Soetta. Pesawat +Citilink pun on time berangkat menuju ke bandara Pekanbaru.
(bersambung)
Minggu, 08 Mei 2016
Sabtu, 07 Mei 2016
JALAN JALAN ASYIK KE MALANG
Malang itu asyik! Barangkali kata itu tepat buat menggambarkan kota yang berada di Provinsi Jawa Timur ini. Banyak objek wisata asyik yang bisa kita nikmati bersama keluarga, mulai dari objek wisata alam sampai edukatif.
Buat sobat Backpacker yang mau ke Malang, barangkali nggak ada salahnya nonton sebagian kecil objek wisata yang bisa dijelajahi di Malang. Selain beberapa tempat yang sudah kami kunjungi ini, masih banyak objek wisata lain yang layak sobat jelajahi. Yang pasti, Malang itu asyik! Seru!
Minggu, 10 April 2016
Waduk Jatiluhur: Mulai dari PLTA, Objek Wisata, sampai Mitos Eyang Balung
Sobat backpacker, kapan terakhir ke Waduk Jatiluhur? Kalo saya nggak tahu. Lupa! Bahkan saking nggak inget, saya lupa, apakah pernah atau malah belum pernah sama sekali. Kalo pun sudah pernah, pasti sudah lamaaaaaa sekali *kata 'lama' sengaja dilebay-lebaykan untuk memperlihatkan betapa sudah lama sekali saya nggak ke waduk Jatiluhur*
Emang kenapa kalo nggak ke Waduk Jatiluhur? Rugi gituh? Hmmm...pertanyaan yang sulit. Semua jawaban saya serahkan kepada sobat sekalian. Yang pasti, kita bangga punya waduk Jatiluhur ini. Kenapa? Sebab, waduk ini punya nilai historis. Selain dibangun pada 1957, waduk ini merupakan waduk serbaguna pertama yang dibangun di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang ngebangun pun kontraktor dari Perancis dan baru kelar selama 10 tahun.
Adalah Presiden RI pertama Ir. Soekarno yang meletakkan batu pertama pembangunan waduk ini pada 1957. Presiden mempercayakan kontraktor asal Perancis yang merencanakan serta melakukan pengawasan pembangunan waduk, yakni Coyne et Bellier. Sementara pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh perusahaan Compagnie Francaise d'Enterprise, Paris, Perancis. Pada 1967, waduk selesai dan tepat pada 26 Agustus 1967, waduk diresmikan oleh Presiden RI kedua Soeharto.
Waduk ini sebenarnya berfungsi sebagai sarana untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dari waduk ini, listrik yang dihasilkan per 2012 sekitar 6 x 30 MW dan terkoneksi dengan jaringan sistem kelistrikan Jawa-Bali. Selain PLTA, waduk ini juga berfungsi sebagai sumber irigasi untuk sawah-sawah penduduk lokal. Air waduk ini bisa menyumbangkan ke lebih kurang 242.000 ha (hektar). Luar biasa bukan?
Ada lagi fungsi waduk Jatiluhur ini, yakni menyediakan air baku untuk DKI Jakarta. Nah tuh! Warga DKI Jakarta harusnya berterima kasih kepada Allah dan waduk ini, karena menyediakan air baku. Apa itu air baku? Air baku adalah air yang akan digunakan untuk input pengolahan air minum yang memenuhi baku mutu air baku. Asal air baku bisa dari sumber air bawah tanah, sumber air permukaan, yaitu sungai, danau, rawa, dan mata air, maupun waduk. Ya, seperti waduk Jatiluhur ini.
Fungsi lain waduk Jatiluhur adalah untuk mengendalikan banjir di Karawang dan sekitarnya. Yang dimaksud Karawang dan sekitarnya meliputi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, serta Kabupaten Cianjur.
Nah, tahun demi tahun, waduk ini akhirnya menjadi objek wisata. Selain wisata pemandangan alam yang indah, juga mereka yang punya hobi mancing, bisa melakukan aktivitas memancing di Waduk Jatiluhur ini. Harap maklum, di waduk ini terdapat berbagai jenis ikan yang bisa ditangkap, salah satunya adalah ikan keramba jarring apung. Jenis ikan ini memang dibudidayakan di kawasan ini.
Sobat backpacker, sebagaimana objek wisata atau lokasi-lokasi bersejarah lain, pasti selalu ada mitos-mitos yang beredar. Ya, seperti di waduk Jatiluhur ini. Ada mitos mengenai Eyang Balung Tunggal. Siapa itu Eyang Balung? Warga mengatakan, dulu Eyang adalah orang sakti yang turut membantu Indonesia melawan penjajah Belanda. Saking sakti, ia tidak pernah bisa ditangkap oleh tentara Belanda.
Sejak lahir, Eyang memang sudah memperlihatkan "keanehan". Ia nggak punya pusar. Oleh karena nggak punya pusar, orangtuanya membolongi perut dengan pakai cerutu. Agak sadis juga ya orangtuanya. Tapi ya, begitu ceritanya.
Beranjak dewasa, kesaktian Eyang makin terlihat. Konon ia punya kemampuan berjalan di atas air. Kemampuan itu sempat dilihat oleh tentara Belanda yang menggejarnya. Selain Belanda, katanya dahulu kala ada warga yang melihat kemampuan itu. Jadi ceritanya, terjadi banjir bandang di Sungai Citarum. Nah, rakit Eyang terseret sungai berkali-kali. Kesal karena rakitnya hanyut terus, ia pun berdiri menapak derasnya banjir badang dan mengikatkan rakit ke betisnya, lalu berjalan di atas air.
Oleh karena mitos, maka nggak ada yang tahu kapan Eyang meninggal dan lokasi makamnya. Ada yang bilang, makamnya ya di lokasi yang menjadi waduk Jatiluhur sekarang ini. Cerita ini dibuat, karena saat terjadi kemarau, volume air berkurang dratis, akan terlihat sehamparan tanah merah di tengah danau. Hamparan tanah itu dianggap makam Eyang. Ada pula warga yang bilang, makam Eyang di Gunung Sanggabuana Karawang, Limbangan Garut, maupun Sangkanjaya Sumedang. Nah tuh! Bingung kan? Nggak usah bingung, namanya juga mitos.
Emang kenapa kalo nggak ke Waduk Jatiluhur? Rugi gituh? Hmmm...pertanyaan yang sulit. Semua jawaban saya serahkan kepada sobat sekalian. Yang pasti, kita bangga punya waduk Jatiluhur ini. Kenapa? Sebab, waduk ini punya nilai historis. Selain dibangun pada 1957, waduk ini merupakan waduk serbaguna pertama yang dibangun di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang ngebangun pun kontraktor dari Perancis dan baru kelar selama 10 tahun.
Adalah Presiden RI pertama Ir. Soekarno yang meletakkan batu pertama pembangunan waduk ini pada 1957. Presiden mempercayakan kontraktor asal Perancis yang merencanakan serta melakukan pengawasan pembangunan waduk, yakni Coyne et Bellier. Sementara pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh perusahaan Compagnie Francaise d'Enterprise, Paris, Perancis. Pada 1967, waduk selesai dan tepat pada 26 Agustus 1967, waduk diresmikan oleh Presiden RI kedua Soeharto.
Waduk ini sebenarnya berfungsi sebagai sarana untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dari waduk ini, listrik yang dihasilkan per 2012 sekitar 6 x 30 MW dan terkoneksi dengan jaringan sistem kelistrikan Jawa-Bali. Selain PLTA, waduk ini juga berfungsi sebagai sumber irigasi untuk sawah-sawah penduduk lokal. Air waduk ini bisa menyumbangkan ke lebih kurang 242.000 ha (hektar). Luar biasa bukan?

Ada lagi fungsi waduk Jatiluhur ini, yakni menyediakan air baku untuk DKI Jakarta. Nah tuh! Warga DKI Jakarta harusnya berterima kasih kepada Allah dan waduk ini, karena menyediakan air baku. Apa itu air baku? Air baku adalah air yang akan digunakan untuk input pengolahan air minum yang memenuhi baku mutu air baku. Asal air baku bisa dari sumber air bawah tanah, sumber air permukaan, yaitu sungai, danau, rawa, dan mata air, maupun waduk. Ya, seperti waduk Jatiluhur ini.
Fungsi lain waduk Jatiluhur adalah untuk mengendalikan banjir di Karawang dan sekitarnya. Yang dimaksud Karawang dan sekitarnya meliputi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, serta Kabupaten Cianjur.
Nah, tahun demi tahun, waduk ini akhirnya menjadi objek wisata. Selain wisata pemandangan alam yang indah, juga mereka yang punya hobi mancing, bisa melakukan aktivitas memancing di Waduk Jatiluhur ini. Harap maklum, di waduk ini terdapat berbagai jenis ikan yang bisa ditangkap, salah satunya adalah ikan keramba jarring apung. Jenis ikan ini memang dibudidayakan di kawasan ini.
Sobat backpacker, sebagaimana objek wisata atau lokasi-lokasi bersejarah lain, pasti selalu ada mitos-mitos yang beredar. Ya, seperti di waduk Jatiluhur ini. Ada mitos mengenai Eyang Balung Tunggal. Siapa itu Eyang Balung? Warga mengatakan, dulu Eyang adalah orang sakti yang turut membantu Indonesia melawan penjajah Belanda. Saking sakti, ia tidak pernah bisa ditangkap oleh tentara Belanda.
Sejak lahir, Eyang memang sudah memperlihatkan "keanehan". Ia nggak punya pusar. Oleh karena nggak punya pusar, orangtuanya membolongi perut dengan pakai cerutu. Agak sadis juga ya orangtuanya. Tapi ya, begitu ceritanya.

Beranjak dewasa, kesaktian Eyang makin terlihat. Konon ia punya kemampuan berjalan di atas air. Kemampuan itu sempat dilihat oleh tentara Belanda yang menggejarnya. Selain Belanda, katanya dahulu kala ada warga yang melihat kemampuan itu. Jadi ceritanya, terjadi banjir bandang di Sungai Citarum. Nah, rakit Eyang terseret sungai berkali-kali. Kesal karena rakitnya hanyut terus, ia pun berdiri menapak derasnya banjir badang dan mengikatkan rakit ke betisnya, lalu berjalan di atas air.
Oleh karena mitos, maka nggak ada yang tahu kapan Eyang meninggal dan lokasi makamnya. Ada yang bilang, makamnya ya di lokasi yang menjadi waduk Jatiluhur sekarang ini. Cerita ini dibuat, karena saat terjadi kemarau, volume air berkurang dratis, akan terlihat sehamparan tanah merah di tengah danau. Hamparan tanah itu dianggap makam Eyang. Ada pula warga yang bilang, makam Eyang di Gunung Sanggabuana Karawang, Limbangan Garut, maupun Sangkanjaya Sumedang. Nah tuh! Bingung kan? Nggak usah bingung, namanya juga mitos.
Jumat, 05 Februari 2016
SATE REMBIGA, SBY, DAN LAYANAN ANTAR
Di Lombok ada banyak kuliner bergenre sate. Ada Sate Bulayak
dan juga Sate Tanjung. Selain dua sate itu, ada satu sate lagi yang khusus saya
mau ceritakan, yakni Sate Rembiga. Rembiga adalah nama sebuah desa yang berada
di dekat bekas Bandara Selaparang, yakni desa Rembiga. Sebelum bandara
internasional yang ada sekarang di Lombok, bandara yang dipergunakan adalah
Bandara Selaparang.
Sebagaimana Sate Bulayak, Sate Rembiga berbahan utama daging
sapi. Rasa satenya beda dengan Sate Bulayak atau Sate Tanjung. Sate Rembiga
sangat lezat. Selain gurih, rasanya juga pedas dan manis. Rasa itu dihasilkan
dari bumbu khas yang dibuat oleh sang penemu sekaligus pemilik ini, yakni
Hajjah Sinasih.
Rasa pedasnya sudah pasti dari cabe rawit. Selain cabe, ada terasi,
bawang putih, garam, dan gula. Itu bumbu. Gimana dengan dagingnya? Sebagaimana
sudah saya sebutkan tadi, dagingnya berasal dari sapi yang dipotong
kecil-kecil. Sebelum dimasak, daging direndam terlebih dahulu dengan bumbu yang
sudah dibuat tadi sampai kira-kira 3 jam. Hal ini dilakukan, supaya bumbu
meresap ke dalam daging. Oleh karena melewati waktu perendaman selama 3 jam,
jadi daging terasa empuk.
Sebetulnya resep bumbu dan cara membuat empuk sate
dipelajari Hajjah Sinasih dari Hj Nafisah. Ya, kira-kira 25 tahun atau 30 tahun
lalu sebelum akhirnya bikin warung sate sendiri. Hajjah Sinasih sendiri sempat jadi
pegawai di warung sate milik Hajjah Nafisah yang waktu itu cukup besar selama
lima tahun.
Setelah lima tahun jadi pegawai, Hajjah Sinasih memberanikan diri
buka warung sate sendiri. Dasar rezeki, warung Sate Rembiga nya yang berada di
jalan Rembiga nomer 4, Mataram ini justru banyak didatangkan pelanggan. Saat jam
makan siang maupun malam, warung ini penuh dengan pelanggan. Jadi, bersiap-siap
nggak kebagian tempat duduk. Percaya nggak percaya, mantan Presiden RI Soesilo
Bambang Yudoyono (SBY) suka banget dengan Sate Rembiga ini.
“Pak SBY sering makan dan minta dibungkus sate ini,” terang
pak Hatta, driver yang menemani saya berwisata di Lombok ini.
Jauh sebelum Hajjah Nafisah maupun Hajjah Sunasih, Sate
Rembiga ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan. Adalah seorang keluarga Raja
Pejanggik yang tinggal di Rembiga memiliki keahlian membuat sate. Keahlian ini
kemudian diwariskan secara turun temurun. Namun begitu, bukan berarti Hajjah
Nafisah dan Hajjah Sunasih punya keturanan darah raja, lho.
Saya nggak sempat berjumpa dengan Hajjah Sunasih yang selama beberapa tahun ini sudah menjadi "konglomerat sate" ini. Saat makan, di warung hanya ada salah satu anaknya. Makanya saat di Lombok dan mampir di warung, saya memanfaatkan mejeng dengan anaknya yang lagi mempersiapkan Sate Rembiga buat saya dan pak Hatta.
Yang manarik dari Sate Rembiga ini, nggak cuma bisa
dinikmati di tempat. Anda bisa pesan dan dikirim melalui kurir. Bukan cuma dikirim
ke wilayah Lombok dan sekitarnya, tetapi bisa juga ke Jakarta. Keren nggak
tuh?! Sate Rembiga akan dipacking dengan rapi. Satenya sendiri bisa bertahan
sampai 3 hari. Jangan heran, ada orang yang rapat di Jakarta minta dipesan
100-200 tusuk.
“Mau pesen mas?” tanya pak Hatta. “Nanti dikirim dari sini
pake TIKI...”
Sate Rembiga ini emang enak, tapi saya mikir buat ngebawa
pulang. Pengen sih makan lagi Sate Rembiga, tapi malas buat ngebawa ke pesawat.
Mau nitip dikirim via kurir, kasihan juga yang dimintai tolong. Hadeeeh!!!
Galau level 10, deh! Jangan-jangan bisa dititip via biro perjalanan semacam +lombok tourplus +Lombok Traveling Tours +Lombok Rise maupun +LombokMirah Sasak Adhi.
Langganan:
Postingan (Atom)

